Makkah (beritajatim.com) – Seorang perempuan renta itu duduk terkurung sunyi di atas kursi roda di lobi hotel kawasan Makkah. Wajahnya menekur, menatap nanar pada tali mukena dan tali masker yang saling terbelit rumit.
Jemari tangannya yang keriput dan gemetar bergerak lambat, mencoba mengurai perkara kecil itu satu demi satu. Butuh waktu hampir tiga menit bagi raga senjanya untuk menyelesaikan urusan yang belasan tahun lalu mungkin bisa diselesaikan dalam kedipan mata.
Namun, ia tak mengeluh. Perempuan itu tampak berdamai dengan pelambatan waktu yang digariskan takdir padanya. Ketika segalanya tak lagi semudah masa muda, ia menjalaninya saja semampunya.
Orang-orang lalu lalang di sekitarnya, namun tak sekali pun ia melirik atau menggunakan bahasa isyarat untuk meminta bantuan. Ia memilih setia pada kemandiriannya.
Perempuan tangguh itu adalah Sofimarni, seorang nenek berusia 78 tahun. Ia merupakan satu dari puluhan ribu lansia yang datang memenuhi panggilan Baitullah pada musim Haji 2026.
Di balik mukena putih dan masker hijau yang menyisakan sepasang bola mata cokelat tua, Sofimarni menyimpan rekam jejak sejarah yang memilukan.
Leher Sofimarni sedikit membengkok ke sisi kanan, sebuah posisi anatomis yang tidak normal akibat trauma masa lalu. Saban hari, ia harus mengenakan collar neck atau penyangga leher agar otot-ototnya tidak menegang dan memicu sesak napas. Cacat permanen ini didapatnya 17 tahun silam, saat bumi Sumatra Barat berguncang hebat.
Puing Mal Matahari 17 Tahun Silam
Rabu sore, 30 September 2009, pukul 17.16 WIB, gempa berkekuatan 7,6 skala Richter meluluhlantakkan Kota Padang. Sofimarni yang kala itu diduga tengah bekerja sebagai karyawan di mal Matahari Padang, terjebak di tengah kepanikan lautan manusia. Ia terdorong, jatuh telungkup, sebelum material beton yang keras menghantam kepala, leher, dan punggungnya.
Nyawanya berhasil diselamatkan dari reruntuhan, namun pengobatan tulang yang tidak tuntas menyisakan deformitas fisik yang dipikulnya hingga hari ini. Volume suaranya mengecil karena pita suaranya terganggu, menciptakan kendala komunikasi di mana ia bisa mendengar jelas lawan bicara, namun suaranya sendiri nyaris tak terdengar.
“Tensi darah, napas beliau stabil. Untuk kekuatan kaki, fisik kakinya juga lumayan kuat untuk seumuran dia,” jelas dr. Virna Zufri Pratiwi, dokter umum kloter Embarkasi Padang (PDG) 06, saat memeriksa kesehatan Sofimarni secara berkala di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Sektor 10, Aziziyah, Makkah, Kamis (14/05/2026).
Setelah suaminya berpulang dan ketiga anak laki-lakinya berpencar mengadu nasib di Bukittinggi serta Pekanbaru, Sofimarni melewati hari-hari dalam sepi di rumah. Namun pada 2013, anak-anaknya patungan mendaftarkannya haji.
Tahun ini, setelah 13 tahun mengantre, ia terbang sendiri ke Arab Saudi tanpa pendampingan keluarga karena keterbatasan biaya. Kepada anak-anaknya yang cemas, ia hanya berucap bahwa ia “keras hati” untuk berangkat—sebuah warisan mental dari ibunya yang dulu juga berhaji seorang diri di usia senja.
Pantang Mengemis Iba di Tanah Haram
Karakter “keras hati” atau keteguhan tekad Sofimarni diakui langsung oleh Edisol Harmen, Ketua Rombongan jemaah PDG 06. Sejak di tanah air, Sofimarni menolak diperlakukan seperti orang sakit.
Ia melahap seluruh sesi manasik dan senam kesehatan tanpa pernah absen, meski jarak hotel Al-Hidayah tempatnya menginap menuju KKHI menuntutnya menaiki kendaraan operasional karena lalu lintas Aziziyah yang padat.
“Sampai di Madinah kemarin, pantang bagi beliau berdiam diri di kamar hotel. Ziarah ke Makam Baqi pun beliau ikut. Pokoknya apa saja kegiatan rombongan, dia selalu ingin ikut,” kata Edisol, yang juga berprofesi sebagai Pengawas Sekolah Dasar di Dinas Pendidikan Kabupaten Bukittinggi, melalui pesan singkat, Ahad (17/05/2026).
Puncak kekaguman rombongan terjadi saat umrah wajib di Masjidil Haram. Di tengah suhu udara Makkah yang menyengat hingga 44 derajat Celsius, Sofimarni melangkah tegap menyelesaikan jengkal demi jengkal rute tawaf mengelilingi Ka’bah dengan kakinya sendiri, tanpa bantuan kursi roda.
Di dalam hotel pun, ia memilih mencuci pakaiannya sendiri tanpa mau merepotkan teman sekamarnya. Bagi Sofimarni, setiap jengkal keringat dan rasa sakit di lehernya yang tersengat matahari Makkah adalah bagian dari dialog spiritualnya dengan Sang Pencipta—sebuah pembuktian bahwa keruntuhan gedung 17 tahun lalu tidak pernah mampu meruntuhkan benteng imannya. [ian/MCH]






