Ringkasan Berita:
- Warung Makan Sapu Jagad di Desa Kemiren, Banyuwangi, memasak seluruh menu dengan tungku kayu bakar untuk menjaga cita rasa kuliner khas Osing.
- Menu utama warung mencakup pecel pitik, ayam uyah asem, dan nasi tempong, dengan kudapan lokal seperti kucur dan semanggi.
- Warung ini menggunakan bahan lokal mandiri dan pegawai warga asli Kemiren, menghadirkan pengalaman kuliner autentik dan suasana ndeso.
Banyuwangi (beritajatim.com) – Warung Makan Sapu Jagad, yang berlokasi di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, menghadirkan pengalaman kuliner otentik khas suku Osing. Seluruh menu di warung ini dimasak menggunakan tungku kayu bakar, sehingga menghasilkan aroma dan rasa yang berbeda dari kebanyakan restoran atau warung lokal di Banyuwangi.
Desa Kemiren sendiri dikenal sebagai desa wisata adat Osing, suku asli Banyuwangi yang kaya budaya. Salah satu kekayaan budaya tersebut tercermin dalam kuliner legendaris seperti pecel pitik dan ayam uyah asem, yang menjadi menu favorit pengunjung Warung Makan Sapu Jagad. Selain itu, warung ini juga menyediakan nasi tempong serta kudapan lokal seperti kucur dan semanggi.
Pemilik warung, Mohammad Yazid Sofyan (43), menegaskan komitmennya menghadirkan kuliner khas seperti yang dimasak warga Kemiren di rumah mereka pada zaman dulu. “Pesan utama kami memang ingin menghadirkan kuliner khas yang dibuat sebagaimana warga setempat memasaknya di rumah masing-masing zaman dulu,” ujarnya, Minggu (17/5/2026).
Memasak dengan tungku kayu bakar tentu memerlukan ketelitian karena besar api tidak bisa diatur secara konsisten. Untuk mengatasi waktu tunggu yang lama bagi pelanggan, tim dapur menyiapkan sebagian menu dalam kondisi setengah jadi sebelum warung buka. Sehingga saat ada pengunjung, masakan bisa langsung diselesaikan tanpa menunggu lama.
Selain menjaga cita rasa, Warung Makan Sapu Jagad juga memperhatikan bahan baku secara mandiri. Pemilik warung memelihara ayam kampung skala kecil untuk menu utama, yang dipotong pada usia 3 hingga 3,5 bulan dengan berat 0,9 hingga 1,1 kg. Semua pegawai dapur juga merupakan warga asli Kemiren yang sudah terbiasa memasak masakan lokal di rumah mereka.
Suasana warung turut mendukung pengalaman kuliner yang khas. Mayoritas bangunan terbuat dari kayu, lantai tersusun dari bata merah yang berlumut, dan ornamen lawas menambah nuansa ndeso. Untuk rombongan besar, Warung Makan Sapu Jagad menyediakan pengalaman berbeda di Sanggar Sapu Jagad, di mana pengunjung bisa menyaksikan langsung proses memasak di tungku kayu bakar.
“Ayam kami jaga untuk diolah saat usia 3 bulan hingga 3,5 bulan. Di usia dan berat itu, ayam tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua,” tambah Sofyan. Rasa autentik, bahan lokal, dan suasana khas menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan yang ingin merasakan kuliner asli Banyuwangi. [alr/suf]






