Ringkasan Berita:
- Gogot Cahyo Baskoro resmi memimpin PDP Kahyangan Jember untuk lima tahun ke depan.
- Mantan Komisioner KPU Jatim itu berkomitmen menerapkan tata kelola perusahaan yang transparan dan antikorupsi.
- Produktivitas perkebunan dan optimalisasi aset menjadi tantangan utama yang akan dibenahi.
- PDP Kahyangan juga didorong melakukan diversifikasi usaha hingga sektor pariwisata.
Jember (beritajatim.com) – Gogot Cahyo Baskoro menegaskan komitmennya membangun tata kelola perusahaan yang bersih dan transparan setelah resmi menjabat Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah Perkebunan Kahyangan untuk lima tahun ke depan.
Mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum Jawa Timur itu menargetkan PDP Kahyangan menjadi perusahaan daerah yang sehat, profesional, dan memiliki daya saing tinggi.
“Saya sebagai Direktur Utama Perumda Perkebunan Kahyangan akan berupaya mewujudkan good clean corporate. Jadi perusahaan yang sehat, yang bersih dan memiliki daya saing,” katanya, Jumat (15/5/2026).
Di bawah kepemimpinannya, Gogot ingin perusahaan mengedepankan prinsip transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independensi, dan fairness dalam menjalankan operasional usaha.
“Termasuk juga nanti insyaallah kami berkomitmen untuk antikorupsi,” ujarnya.
Gogot mengakui masih terdapat berbagai tantangan yang harus dibenahi, terutama pola manajerial perusahaan yang dinilai belum sepenuhnya terbuka sehingga memunculkan rendahnya kepercayaan publik maupun internal perusahaan.
“Pertama, kami melihat pola manajerial Perumda Perkebunan Kahyangan ini masih belum sepenuhnya terbuka. Jadi bisa jadi ini memunculkan kurang kepercayaan publik, karyawan sendiri, dan pihak ketiga,” katanya.
Selain persoalan tata kelola, PDP Kahyangan juga menghadapi tantangan berupa produktivitas tanaman yang belum optimal serta pemanfaatan aset perusahaan yang dinilai masih kurang maksimal.
Menurut Gogot, perusahaan perlu menghadirkan produk premium baru untuk meningkatkan nilai tambah hasil perkebunan, khususnya komoditas kopi.
Ia mencontohkan penjualan kopi tidak hanya berhenti pada bentuk green bean atau gelondongan, tetapi harus dikembangkan menjadi kopi specialty bernilai ekonomi lebih tinggi.
“Tapi juga bisa ditingkatkan jadi specialty,” ujarnya.
Meski menghadapi banyak tantangan, Gogot menegaskan tidak ingin PDP Kahyangan ditutup hanya karena persoalan keuntungan.
“Alih-alih ditutup, PDP Kahyangan itu justru harus menjadi pengungkit, menjadi penyelamat, jaring pengaman sosial. Karena jumlah kepala keluarga yang bergantung kepada perkebunan cukup tinggi,” katanya.
Dalam waktu dekat, Gogot berencana mengawal perubahan peraturan daerah terkait PDP Kahyangan bersama DPRD Kabupaten Jember agar perusahaan memiliki ruang usaha yang lebih luas.
“Kita berharap nanti perda yang baru ini memang bisa memberikan ruang yang cukup luas kepada Perumda Perkebunan Kahyangan tidak sekadar spesifik mengurusi kopi maupun karet, tapi bisa juga di sektor usaha yang lain,” katanya.
Diversifikasi usaha disebut menjadi langkah penting untuk memperkuat perusahaan, termasuk pengembangan sektor wisata di sejumlah kawasan perkebunan milik PDP Kahyangan.
Beberapa lokasi yang diproyeksikan berkembang antara lain wisata Boma dan Rimba Camp di Kebun Gunung Pasang serta Kampung Belgia di Kebun Sumber Wadung.
Direksi PDP Kahyangan juga telah berkoordinasi dengan Perhutani untuk membuka akses lebih luas menuju kawasan wisata air terjun Tancak.
Gogot berharap pengembangan wisata tersebut mampu meningkatkan pendapatan perusahaan sekaligus mendukung perekonomian masyarakat sekitar.
“Insyaallah akan meningkatkan income bagi Perumda Perkebunan Kahyangan,” pungkasnya. [wir/beq]






