Lamongan (beritajatim.com) – Sebagai peternak yang sapinya terpilih untuk dijadikan hewan kurban Presiden Prabowo Subianto dalam dua tahun terakhir, menjadi kebanggan tersendiri bagi Haji Suwignyo, asal Desa Puter, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan.
Terlebih, sapi tersebut hasil pembibitannya sendiri. Tahun lalu, sapi jenis Crossing Belgian Blue berbobot 1,18 ton, dibeli presiden untuk disembelih di Kecamatan Karanggeneng, Lamongan. Sedangkan tahun ini adalah jenis Crossing Simmental, dengan bobot 1,2 ton, yang akan dikurbankan di wilayah Kecamatan Mantup.
“Alhamdulillah tahun ini termasuk anugerah, dan rasa syukur yang tak terhingga, karena 2 tahun berturut-turut ini, kami dipercaya menyajikan sapi untuk kurban Banmas, Bantuan Masyarakat, dari Bapak Presiden Prabowo,” kata Suwignyo, saat ditemua di kandang sapi miliknya, Kamis (14/5/2026).
Suwignyo menjelaskan, tahapan seleksi sapi kurban untuk Presiden sudah dilakukan sejak dua bulan lalu. Mulai dari proses verifikasi dan berbagai tahapan lain, yang dilakukan oleh tim dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan dan Provinsi.
“Dari sekian peternakan di Lamongan yang diseleksi, yang ditunjuk, yang bisa memenuhi kriteria Alhamdulillah di kandang saya,” ujarnya.
Menurut Wignyo, sapi yang terpilih tahun ini sebenarnya baru akan diikutkan seleksi untuk tahun depan, karena bobotnya masih bisa bertambah. Tapi karena sudah memenuhi kriteria, akhirnya sapi yang diberi nama Satria itu dilepas.
“Sekarang umurnya 2 tahun setengah. Rencana mau saya launching tahun depan. Bobotnya bisa mencapai 1,5 ton.
Tapi karena sudah masuk verifikasi, yang monggo,” tuturnya.
Dua kali terpilih menjadi penyedia sapi kurban untuk Presiden, tentu memancing rasa penasaran mengenai perlakuan yang diberikan Suwignyo terhadap sapi ternaknya.
Namun Suwignyo mengaku tidak memberikan perlakuan khusus terhadap sapi-sapinya. Perawatan yang dilakukan seperti pada umumnya, dengan mencukupi kebutuhan nutrisi, serta memperhatikan kesehatan sapi.
Menurutnya, kunci keberhasilan peternakannya terletak pada kejelian dalam menentukan indukan. Pengalaman selama 20 sebagai peternak sapi, membuatnya hafal betul calon indukan dan pejantan yang nantinya bisa menghasilkan oeranakan yang berkualitas.
“Jadi, dari peranak-peranakan yang lahir, itu kan kita pilah, kalau betina, yang bagus kita jadikan indukan. Kalau yang pejantan, kalau yang usia dari usia 7 bulan sampai 1 tahun, itu kan sudah nampak ada bakatnya atau tidak itu. Kalau ada bakatnya, kitabjadikan maskot kandang,” katanya.
Berkat kejeliannya dalam memilih indukan, Suwignyo mampu menjaga eksistensi peternakannya dalam memproduksi sapi-sapi berkualitas sejak 2006.
“Saat ini populasi di kandang kami kurang lebih 70 sapi. Sejak awal itu memang kami fokus pembibitan,” ucapnya.
Selain jenis Crossing Simmental dan Crossing Belgian Blue, peternakan Suwignyo juga mengembangkan beberapa jenis sapi lain, termasuk Crossing Limousin dan Peranakan Ongole (PO).
“Nah, Alhamdulillah di tahun 2006 ini, ada kurang lebih 37 ekor itu berhasil dilakukan Inseminasi Buatan (IB) untuk Belgian Blue, sama petugas Dinas Peternakan Lamongan. Jadi, mungkin kelahiran Belgian Blue tahun ini, nanti ini bisa kita kembangkan mungkin satu kandang full untuk peranakan Belgian Blue,” pungkasnya. (fak/aje)






