Surabaya (beritajatim.com) – Tiga mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) meracik solusi cerdas memutus rantai penularan tuberkulosis (TBC) di ruang tertutup kantoran lewat inovasi sistem bernama TB-Shield.
Temuan tersebut bermula dari keresahan tingginya angka infeksi pada pekerja produktif. Stigma negatif masyarakat seringkali membuat para pegawai malu memeriksakan kesehatannya secara terbuka.
“Sistem perisai ini memadukan teknologi digital, kesehatan masyarakat, serta pendekatan psikologis agar ruang kerja jauh lebih aman dari ancaman penularan,” tutur anggota tim dari Fakultas Kedokteran (FK), Anindita Azkia Fauzana, Selasa (12/5/2026).
Perangkat pemantau ini bekerja dengan mendeteksi seberapa besar potensi bahaya paparan bakteri di satu lantai gedung. Cara kerjanya ikut mengandalkan perbaikan sirkulasi ruangan tanpa henti.
“Fokus kami tertuju pada pantauan risiko berjenjang, perbaikan kualitas udara, dan juga penanganan rekam medis pekerja yang jauh lebih terstruktur,” kata Anindita.
Menyatukan konsep lintas ilmu jelas merepotkan tim yang sukses merengkuh juara tiga ajang kompetisi ide kesehatan masyarakat di Universitas Gadjah Mada tersebut. Perbedaan keahlian menuntut diskusi panjang.
“Kesulitan paling terasa saat riset awal adalah mengawinkan berbagai disiplin keilmuan berbeda untuk dilebur menjadi satu rancangan perisai utuh,” terang Bayu Cahyo Bintoro, mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unair.
Rekayasa teknologi harus bertemu dengan pakem medis yang ketat. Bentuk akhir alat pencegah penularan ini harus aplikatif, murah, dan masuk akal untuk segera dipakai oleh pihak perusahaan.
“Hitungan teknis material nano, kaidah medis, sampai urusan psikologis pekerja harus diramu secara presisi agar hasilnya tetap logis terpakai di lapangan,” imbuh Bayu.
Masa persiapan lomba juga memicu tantangan tersendiri bagi perwakilan kampus Surabaya ini. Gagasan yang terlalu akademis terpaksa disederhanakan supaya mudah ditangkap akal sehat para penilai.
“Menyederhanakan konsep super rumit jadi rancangan awal yang gampang dipahami dewan juri punya tantangan teknis tersendiri,” beber perwakilan Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Unair, Intan Asmi Saharani.
Tiga serangkai ini akhirnya memecah porsi kerja spesifik berdasarkan disiplin ilmunya masing-masing. Alat pantau kesehatan udara ini sekarang tengah memasuki tahap penyempurnaan desain untuk persiapan uji coba langsung.
“Kami memperkuat detail peragaan alat maupun skenario pemakaian harian agar sistem ini siap jalan masuk ke fase proyek percontohan sesungguhnya,” pungkas Intan. [ipl/ted]






