Ringkasan Berita:
- Pemkab Lamongan menggelar Program Prima Desa untuk meningkatkan kapasitas perangkat desa.
- Sebanyak 213 perangkat desa baru mengikuti pelatihan manajemen aparatur desa.
- Bupati Yuhronur menekankan pentingnya hard skill dan soft skill bagi pelayanan publik desa.
- Program ini bertujuan menciptakan tata kelola pemerintahan desa yang profesional, adaptif, dan responsif.
Lamongan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Lamongan terus memperkuat kualitas pelayanan publik di tingkat desa melalui Program Peningkatan Manajemen Aparatur Desa (Prima Desa), sebuah program strategis yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas teknis, komunikasi, dan adaptasi perangkat desa dalam menghadapi tantangan pembangunan modern.
Program unggulan yang digagas Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Lamongan tersebut digelar di Aula Gajah Mada Pemkab Lamongan pada Selasa (12/5/2026), dengan melibatkan seluruh perangkat desa baru se-Kabupaten Lamongan.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menegaskan bahwa perangkat desa merupakan ujung tombak pelayanan publik sekaligus wajah pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat.
“Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2024 menegaskan bahwa tidak ada pembangunan Indonesia yang berhasil tanpa desa yang kuat, dan tidak ada desa yang kuat tanpa perangkat desa yang berdedikasi,” kata Yuhronur saat membuka kegiatan Prima Desa.
Menurut Bupati yang akrab disapa Pak Yes tersebut, perangkat desa memiliki peran strategis dalam menjalankan kebijakan pemerintahan desa serta memastikan keputusan kepala desa dan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dapat diimplementasikan secara efektif.
Ia menekankan bahwa perangkat desa harus mampu menjawab tantangan zaman, mulai dari efisiensi birokrasi, pelayanan masyarakat, hingga isu perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
“Perangkat desa sering berhubungan langsung dengan pelayanan publik. Maka harus mampu beradaptasi terhadap tantangan yang ada dan memiliki kemampuan lebih untuk menerjemahkan tantangan tersebut menjadi kebijakan bersama yang bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Yuhronur juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara hard skill dan soft skill bagi aparatur desa.
“Hard skill berkaitan dengan kemampuan teknis dalam bekerja, sedangkan soft skill menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan, komunikasi, serta kemampuan beradaptasi,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas PMD Kabupaten Lamongan Joko Raharto menjelaskan bahwa program Prima Desa berlangsung selama dua hari, mulai 12 hingga 13 Mei 2026.
Sebanyak 213 perangkat desa yang baru dilantik pada periode 2025 hingga awal 2026 mengikuti pelatihan ini, terdiri dari 15 sekretaris desa, 44 kepala urusan, 80 kepala seksi, dan 74 kepala dusun.
“Program ini bertujuan meningkatkan kinerja aparatur desa agar mampu menjalankan tata kelola pemerintahan desa secara profesional, adaptif, dan berorientasi pelayanan masyarakat,” kata Joko.
Berbagai materi strategis diberikan dalam pelatihan tersebut, meliputi pengelolaan keuangan desa, manajemen aset dan sumber daya desa, penguatan nilai-nilai Pancasila, pengembangan BUMDes, kepemimpinan, loyalitas aparatur, ketertiban masyarakat produktif, lembaga kemasyarakatan desa, hingga tata kelola pemerintahan desa modern.
Melalui Prima Desa, Pemkab Lamongan menargetkan terciptanya aparatur desa yang semakin kompeten, profesional, dan siap menjadi motor penggerak pembangunan desa yang kuat sebagai fondasi utama kemajuan daerah. [fak/beq]






