Ringkasan Berita:
- Jemaah haji asal Lamongan menggunakan mawar merah di kerudung sebagai penanda rombongan.
- Penanda ini memudahkan sesama anggota kelompok saling mengenali dari jarak jauh.
- Inovasi tersebut telah diterapkan sejak keberangkatan dari Embarkasi Surabaya.
- Mawar merah hanya penanda tambahan, sementara identitas resmi tetap wajib dibawa.
Lamongan (beritajatim.com) – Jemaah haji asal Kabupaten Lamongan tampil mencolok di tengah lautan jemaah internasional di Tanah Suci dengan menyematkan mawar merah di kerudung jemaah perempuan.
Penanda berwarna merah terang tersebut menjadi ciri khas khusus yang digunakan untuk memudahkan identifikasi sesama anggota rombongan di tengah padatnya aktivitas ibadah haji 2026.
Di tengah jutaan jemaah dari berbagai negara, strategi visual sederhana ini terbukti efektif membantu koordinasi kelompok.
Salah satu jemaah, Siti Fatimah, mengatakan penggunaan mawar merah telah dirancang dan disepakati sejak masih berada di Tanah Air.
Menurutnya, warna merah yang mencolok mempermudah anggota kelompok menemukan rekan satu rombongan meski berada dalam keramaian.
“Ini untuk tanda pengenal biar mudah dikenali dari jauh. Kalau dari jauh kelihatan mawar merahnya, oh itu teman kita,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Fatimah menjelaskan, penanda mawar merah ini digunakan oleh Kelompok Terbang (Kloter) 34 yang tergabung dalam KBIHU Mawar sejak keberangkatan dari Embarkasi Surabaya.
Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi menghadapi padatnya jadwal ibadah dan besarnya jumlah jemaah selama di Tanah Suci.
“Ide ini muncul sebagai langkah antisipasi, mengingat padatnya jadwal dan banyaknya jumlah jemaah haji dari berbagai negara,” katanya.
Dengan sistem penanda tersebut, anggota kelompok dapat lebih mudah menjaga kebersamaan dan mengurangi risiko terpisah saat berpindah lokasi ibadah.
Meski menggunakan penanda tambahan, Fatimah menegaskan bahwa seluruh identitas resmi seperti gelang jemaah, kartu identitas, dan tas paspor tetap wajib dibawa setiap saat.
Hal itu penting untuk memastikan keamanan administratif apabila terjadi situasi darurat atau pemisahan rombongan.
“Yang penting rukun, kompak, dan saling menjaga satu sama lain selama menjalankan ibadah di Tanah Suci,” katanya. [fak/beq]






