Pacitan (Beritajatim.com) – Puluhan pengawas Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), mulai dari unsur PGRI, MKKS, Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan hingga para camat dari 12 kecamatan di Kabupaten Pacitan, Kamis (7/5/2026) siang mendatangi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 23 Pacitan.
Kunjungan yang dipimpin Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan itu dilakukan sebagai studi tiru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam penerapan pendidikan karakter siswa.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan, Khemal Pandu Pratikna mengatakan, rombongan ingin mempelajari pola pembentukan karakter yang dinilai berhasil diterapkan di SRMA 23 Pacitan.
“Studi tiru terkait bagaimana pembentukan karakter anak, karena kami mencermati pendidikan karakter yang dilakukan di SRMA 23 itu berjalan dengan baik,” katanya.
Menurut Khemal, sejumlah pola pendidikan yang diterapkan di Sekolah Rakyat dinilai cocok untuk diadaptasi di sekolah formal negeri di berbagai jenjang pendidikan.
“Ada beberapa poin yang nanti akan kita implementasikan, akan kita copy untuk dilaksanakan di sekolah negeri, tetapi juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan diajak melihat langsung kondisi asrama putra dan putri, tata kelola kedisiplinan siswa, hingga pola pembiasaan yang dilakukan setiap hari. Mereka juga makan bersama para siswa dalam satu meja sebagai bagian dari pengamatan aktivitas keseharian di lingkungan asrama.
Khemal menilai, salah satu kunci keberhasilan pendidikan karakter di Sekolah Rakyat adalah adanya kesamaan persepsi antara wali asuh dan pihak sekolah.
“Yang paling menarik itu adalah bagaimana ternyata pendidikan karakter kuncinya adalah kesamaan persepsi antara orang tua dengan sekolah. Dalam hal ini, kalau di Sekolah Rakyat antara wali asuh dengan guru. Itu yang menjadi faktor utama penentu keberhasilan pendidikan karakter,” jelasnya.
Ia mengakui, tantangan penerapan pendidikan karakter di sekolah umum masih cukup besar, terutama dalam membangun komunikasi dan keterlibatan orang tua.
“Saya meyakini itu akan bisa meskipun butuh waktu. Salah satu yang kami evaluasi adalah intensitas pertemuan antara sekolah dengan orang tua masih sangat kurang. Itu baru intensitas, belum kualitas,” katanya.
Karena itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan mendorong sekolah untuk lebih aktif membangun komunikasi dengan wali murid serta meningkatkan partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah. (tri)






