Bojonegoro (beritajatim.com) – Menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro mulai mengintensifkan pemeriksaan kesehatan hewan kurban guna mencegah potensi penyebaran penyakit serta memastikan keamanan ternak.
Langkah antisipatif ini dilakukan melalui kegiatan surveilans lapangan di berbagai wilayah Bojonegoro dengan melibatkan petugas teknis peternakan dan inseminator di tingkat kecamatan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Disnakan Bojonegoro, Lutfi Nurrahman, mengatakan pemeriksaan dini menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan hewan kurban.
“Menjelang Idul Adha kami melaksanakan surveilans hewan kurban, supaya bisa terdeteksi lebih awal apabila ada yang terserang penyakit,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Selain pemeriksaan fisik, petugas juga memberikan edukasi kepada peternak mengenai pola perawatan yang tepat, terutama di tengah kondisi cuaca panas yang dapat memicu stres pada ternak.
Disnakan menyoroti risiko perlakuan yang kurang tepat, seperti memandikan hewan saat kondisi tubuh masih panas, yang dapat berujung pada kematian mendadak.
Karena itu, peternak diimbau memastikan kebutuhan dasar ternak terpenuhi, khususnya kecukupan air minum untuk mencegah dehidrasi.
Hingga saat ini, Bojonegoro dilaporkan masih bebas dari kasus baru Penyakit Mulut dan Kuku.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap meningkatkan kewaspadaan dengan menyiapkan sekitar 35 ribu dosis vaksin PMK sepanjang 2026 sebagai langkah pencegahan.
Di sisi pasokan, Bojonegoro dipastikan memiliki stok hewan kurban yang sangat aman, bahkan surplus.
Data Disnakan mencatat total ketersediaan mencapai 60.349 ekor, terdiri atas 15.504 sapi, 20.211 kambing, dan 24.634 domba.
Jumlah tersebut jauh melampaui estimasi kebutuhan Idul Adha tahun ini yang diperkirakan sekitar 3.500 sapi, 8.500 kambing, dan 9.500 domba.
“Stok hewan kurban di Bojonegoro aman dan lebih dari cukup untuk Idul Adha,” pungkasnya. [lim/beq]






