Makkah (beritajatim.com) – Dua jemaah haji Indonesia dilaporkan mengalami serangan yang diduga kuat sebagai heatstroke saat berada di area Masjidil Haram, Makkah, dalam dua hari terakhir. Kondisi ini dipicu oleh cuaca ekstrem dengan suhu udara yang konsisten melampaui 40 derajat Celsius, sehingga menuntut kewaspadaan tinggi bagi jemaah, terutama kelompok lanjut usia (lansia).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Tim Penanganan Krisis Pertama pada Jemaah Haji (PKP2JH) telah melakukan langkah evakuasi cepat di titik kritis seperti Pos Anjum untuk memberikan pertolongan pertama kepada jemaah yang ditemukan tergeletak tak sadarkan diri.
Kepala Seksi PKP2JH, Lansia, dan Disabilitas Daker Makkah, dr. Ridwan Susanto, mengungkapkan bahwa satu dari dua jemaah tersebut bahkan harus dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi karena adanya indikasi komplikasi jantung.
“Dari gejalanya kemungkinan ia ke arah sana (heatstroke), karena jemaah tiba-tiba terjatuh, tergeletak, dan tidak sadarkan diri. Tim PKP2JH langsung bereaksi cepat membawa jemaah ke tempat teduh dan mengusahakan pendinginan di ruangan ber-AC guna menstabilkan suhu tubuh serta tanda vitalnya,” ujar dr. Ridwan saat ditemui di Kantor Daker Makkah, Minggu (3/5/2026).
Strategi Ibadah dan Larangan “Aji Mumpung”
Mengingat fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) masih cukup jauh, dr. Ridwan menekankan kepada Ketua Kloter dan Ketua Rombongan (Karom) untuk mengatur ritme ibadah jemaah lansia secara objektif. Stamina jemaah tidak boleh habis terkuras hanya untuk mengejar umrah sunnah berulang kali atau memaksakan diri ke Masjidil Haram di tengah terik matahari.
“Kita sudah menekankan, bukan sekadar imbauan lagi, agar Karom memperhatikan jemaah lansianya. Pikirkan fase Armuzna itu puncak hajiannya, jangan sampai menjelang hajian justru jemaah berhalangan karena kehabisan tenaga. Jangan terjebak eforia ‘aji mumpung’ di tanah suci tanpa mempertimbangkan kondisi fisik,” tegasnya.
Pihak Kemenhaj menyarankan jemaah lansia untuk memilih waktu ibadah yang lebih bersahabat, seperti pagi hari setelah salat Subuh atau saat sore menjelang malam hari. Ibadah di hotel juga sangat dianjurkan karena kualitas pahala di seluruh Tanah Haram dinilai sama, sehingga jemaah tidak perlu memaksakan diri menempuh jarak jauh ke Masjidil Haram yang bisa mencapai 1 kilometer dari terminal.
Mengenali Gejala Heatstroke dan Langkah Mitigasi
Heatstroke tidak terjadi secara mendadak, melainkan melalui beberapa tahapan yang harus diwaspadai jemaah, mulai dari kaku otot (heat cramp), lemas dan pusing hebat (heat exhaustion), hingga kegagalan fungsi organ (heatstroke). Salah satu ciri yang sering muncul pada tahap berat adalah penurunan kesadaran yang disertai disorientasi tempat atau perilaku mengamuk.
Untuk meminimalisir risiko, tim kesehatan menyarankan jemaah untuk selalu menggunakan pelindung kepala seperti payung atau topi, mengenakan pakaian longgar yang nyaman, serta membawa semprotan air untuk mendinginkan wajah dan tubuh secara berkala.
“Seringlah minum, dua hingga tiga teguk setiap 15 menit. Jangan tunggu haus, karena cuaca di sini sangat kering. Cairan tubuh cepat menguap lewat keringat, sehingga harus diisi secara berkala agar tidak terjadi dehidrasi berkepanjangan yang memicu gagal jantung atau ginjal,” tambah dr. Ridwan.
Sebagai langkah mitigasi tambahan, Kemenhaj akan memasang pamflet pemberitahuan di hotel-hotel dan merencanakan program kegiatan di pemondokan seperti senam sehat lansia. Tujuannya agar jemaah tetap memiliki aktivitas positif di hotel sehingga keinginan untuk bolak-balik ke Masjidil Haram di jam-jam ekstrem dapat berkurang. Petugas tambahan juga akan ditempatkan di titik-titik rawan guna mempercepat respon jika terjadi krisis kesehatan di lapangan. [ian/MCH]






