Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) merespons ketimpangan akses pembelajaran dengan mengirim sekitar 4.000 mahasiswa ke berbagai wilayah nusantara.
Pengiriman ini berjalan melalui program mobilitas mahasiswa. Mereka bertugas menyalurkan ilmu dan berinteraksi langsung dengan masyarakat pelosok.
Wakil Rektor II Unesa Prof. Bachtiar Syaiful Bachri mengatakan program ini murni menggunakan mahasiswa reguler semester lima.
“Bukan mahasiswa PPG, tapi mahasiswa reguler Unesa melalui program Student Mobility, itu mengirimkan mahasiswa ke berbagai tempat,” ujarnya di sela Gebyar Bulan Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa, Sabtu (2/5/2026).
Mahasiswa ini tersebar hingga Batam, Sumatra, dan Kalimantan Selatan selama dua bulan. Bachtiar mengungkapkan bahwa kendala utama pemerataan ini terletak pada tingginya ongkos transportasi.
“Ada dukungan-dukungan yang bisa membawa bagaimana mahasiswa dikirim ke tempat-tempat yang diperlukan, tapi tentu kan ada kendala-kendala jarak tadi yang membutuhkan biaya,” jelas Bachtiar.
Pemenuhan hak belajar ini sejalan dengan agenda FIP Unesa. Fakultas ini mendesain sistem edukasi bagi kelompok reguler maupun penyandang disabilitas.
“Karena setiap warga negara, baik yang reguler atau yang berkebutuhan khusus, itu juga perlu mendapat perlakuan yang sama terhadap hak-hak pendidikannya,” tambahnya.
Selain sebaran tenaga pengajar, FIP mendistribusikan langsung hasil inovasi riset ke pihak sekolah. Langkah ini membidik penguatan ekosistem belajar masa depan.
“Hari ini ada penyerahan karya mahasiswa ke stakeholder. Jadi nanti karya-karya dari sivitas ini diserahkan supaya bisa dimanfaatkan untuk sekolah-sekolah mereka,” kata Dekan FIP Unesa Prof. Mochamad Nursalim.
Nursalim memastikan kurikulum kampus telah mengadopsi kecerdasan buatan. Transformasi digital menjadi bekal mahasiswa menghadapi perubahan teknologi dunia kerja.
“Banyak yang diberikan ke mahasiswa. Di antaranya juga ada AI (Artificial Intelligence) itu juga sudah masuk di kurikulum,” ungkap Nursalim.
Strategi tersebut mendongkrak tingkat serapan karier alumni. Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi terkait batas bawah penghasilan lulusan berhasil terpenuhi.
“Semua prodi terserap, bahkan dari IKU yang dibebankan pemerintah yang lulusan itu harus punya gaji 1,2 UMR itu alhamdulillah tercapai,” tutupnya. [ipl/ted]






