Sumenep (beritajatim.com) — Peta ketimpangan fasilitas kesehatan di Jawa Timur masih menyisakan ruang gelap, salah satunya di Pulau Mamburit. Gugusan pulau kecil di wilayah Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep ini seolah luput dari akses layanan medis dasar. Realitas inilah yang mendorong pengusaha asal Surabaya, Uung Victoria Finky, untuk turun langsung menyusuri wilayah terluar Madura tersebut.
Bagi Uung, yang sehari-hari berkutat dengan bisnis jenama perawatan anak Moell, melihat data statistik kesehatan saja tidak cukup. Pada akhir April 2026, ia memutuskan menempuh perjalanan 15 jam jalur darat dari Surabaya ke Pelabuhan Kalianget, disusul dua kali pergantian kapal melintasi perairan Madura demi mencapai Mamburit.
“Ketika tiba di Mamburit, realitanya jauh lebih keras dari yang kita bayangkan di kota. Jangankan bicara soal fasilitas kesehatan yang layak, sekadar mendapat akses edukasi dasar tentang gizi dan perawatan anak saja masih menjadi kemewahan bagi warga di sini,” ungkap Uung.
Ketimpangan itu terpampang nyata pada fasilitas medis satu-satunya di pulau yang mayoritas warganya adalah nelayan tersebut. Di Mamburit, layanan kesehatan bertumpu pada sebuah Pos Kesehatan Desa (Poskesdes). Ironisnya, fasilitas ini bukan dibangun oleh pemerintah, melainkan hasil urunan warga (swadaya) yang berdiri di atas lahan pinjaman.
Kondisinya memprihatinkan. Di dalam bangunan sederhana itu, hanya terdapat satu ranjang pemeriksaan dengan pasokan obat yang sangat terbatas.
Keterbatasan infrastruktur ini berdampak langsung pada anak-anak. Pendataan yang dilakukan secara independen bersama CHeNECE Universitas Airlangga (Unair) pada 23-24 April 2026 menemukan fakta bahwa krisis gizi benar-benar terjadi di pulau ini. Dari populasi anak usia 0-24 bulan, sebanyak 22,73 persen (5 anak) terdeteksi mengalami stunting, dan 4,55 persen (1 anak) berada dalam kondisi severely stunting atau gizi buruk parah.
“Selain masalah gizi, banyak anak mengalami infeksi kulit parah akibat cuaca pesisir. Warga terbiasa menunda ke dokter atau sekadar mengobatinya dengan bedak tabur karena tidak ada pilihan lain,” tambah Uung, menjabarkan temuan di lapangan.
Berhadapan dengan krisis infrastruktur medis tersebut, Uung memilih untuk tidak sekadar memberikan bantuan karitatif yang habis pakai. Ia menginisiasi perbaikan struktural dengan merevitalisasi total bangunan Poskesdes Mamburit.
Fasilitas yang sebelumnya serba terbatas itu diperbaiki fisiknya, ditambah sarana medisnya, serta dipasok kebutuhan obat-obatannya agar setidaknya mumpuni untuk penanganan pertama (first aid).
Tak berhenti pada perbaikan fisik, Uung juga memboyong tenaga medis, dr. Ikhsanuddin Qothi, untuk melakukan home visit atau kunjungan dari pintu ke pintu. Langkah ini diambil untuk mengedukasi para ibu di Mamburit yang kesulitan mengakses informasi kesehatan.
Bagi Uung, kunjungannya ke ujung timur Madura ini menjadi tamparan sekaligus refleksi tentang bagaimana seharusnya keadilan sosial, khususnya di bidang kesehatan anak, ditegakkan.
“Kesehatan anak, entah dia lahir di pusat kota Surabaya atau di pulau terpencil seperti Mamburit, bukanlah sebuah hak istimewa. Itu adalah hak dasar. Perjalanan ini mengubah cara saya melihat tanggung jawab sosial. Kita tidak bisa hanya menunggu, tetapi harus menjemput bola dan hadir langsung di tempat-tempat yang tak terlihat ini,” pungkasnya.
Sementara, Perawat Poskesdes Mamburit, Hj Asharul Fauli, S.Kep., Ns., mengakui bahwa keterbatasan alat membuat penanganan darurat nyaris mustahil dilakukan di pulau.
“Kalau ada pasien butuh rujukan, kami harus bertaruh waktu dan cuaca menyeberang laut ke Kangean atau daratan Sumenep,” jelasnya. (har)






