Sumenep (beritajatim.com) — Tingginya temuan kasus stunting dan minimnya akses fasilitas medis di kepulauan terpencil mendorong brand perawatan kulit anak, Moell, untuk merevitalisasi Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) di Pulau Mamburit, Kepulauan Kangean, Kabupaten Sumenep, pada 2026.
Wilayah terluar yang membutuhkan waktu tempuh hingga 15 jam perjalanan darat dan laut dari Surabaya ini, selama ini hanya bergantung pada satu Poskesdes yang dibangun secara swadaya oleh warga dengan fasilitas sangat terbatas.
“Masalah kesehatan anak di sini banyak, terutama terkait tumbuh kembang dan kondisi kulit. Namun karena keterbatasan akses, warga cenderung menunda pemeriksaan medis,” ungkap Bidan Desa Mamburit, Syamsiyah, S.Keb., Bdn.
Pernyataan tersebut sejalan dengan temuan pendataan terbaru yang mengungkap persoalan serius pada tumbuh kembang anak di wilayah tersebut.
Hasil kolaborasi pemetaan data antara Moell dan CHeNECE Universitas Airlangga (Unair) pada 23-24 April 2026 menunjukkan fakta memprihatinkan. Dari populasi anak usia 0-24 bulan di Pulau Mamburit, terdapat 5 anak (22,73%) yang mengalami stunting dan 1 anak (4,55%) dalam kondisi severely stunting (gizi buruk tingkat parah).
Selain stunting, minimnya akses informasi juga membuat masalah kesehatan kulit anak, seperti ruam dan gatal akibat paparan cuaca pesisir, kerap salah penanganan karena warga masih mengandalkan bedak tabur secara berlebihan.
Merespons kedaruratan infrastruktur kesehatan tersebut, Moell turun tangan melakukan revitalisasi menyeluruh terhadap Poskesdes Mamburit. Fasilitas yang sebelumnya hanya memiliki satu ranjang pemeriksaan dan minim obat-obatan itu kini diperbarui secara fisik serta ditambah sarana medisnya.
Perawat Poskesdes Mamburit, Hj Asharul Fauli, S.Kep., Ns., membenarkan bahwa selama ini pasien rujukan harus bertaruh waktu menyeberangi lautan berjam-jam menuju Pulau Kangean atau daratan Sumenep.
“Oleh karena itu, perbaikan fasilitas di pulau ini sangat membantu penanganan awal bagi warga sebelum dirujuk,” jelas Asharul.
Tidak hanya pembenahan fisik infrastruktur, rangkaian kegiatan ini juga diisi dengan pemeriksaan medis gratis dan kunjungan rumah (home visit) oleh dr. Ikhsanuddin Qothi guna mengedukasi warga terkait pencegahan dini penyakit dan perawatan kesehatan anak.
Founder Moell, Uung Victoria Finky, mengungkapkan bahwa langkah revitalisasi ini didorong oleh realitas ketimpangan fasilitas medis yang terjadi di wilayah kepulauan terpencil.
“Moell On Mission lahir dari keyakinan bahwa kesehatan dan tumbuh kembang anak seharusnya tidak ditentukan oleh lokasi tempat tinggal. Kami ingin hadir langsung untuk melihat, memahami, dan membantu menjawab kebutuhan masyarakat yang mungkin belum banyak terlihat,” tegas Uung.
Bagi Uung, inisiatif di Pulau Mamburit ini bukan sekadar program tanggung jawab sosial sesaat, melainkan dorongan untuk membuka mata publik dan memantik diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya pemerataan akses kesehatan.
Di balik segala keterbatasan yang ada, Uung mengaku menemukan kekuatan sosial luar biasa dari masyarakat yang bisa menjadi fondasi untuk perubahan yang lebih baik.
“Kunjungan ke Mamburit bukan hanya memperlihatkan keterbatasan akses, tetapi juga memperlihatkan hangatnya kehidupan masyarakat yang saling membantu. Semangat gotong royong, sambutan warga yang terbuka, serta kepedulian antar sesama menjadi kekuatan sosial yang besar dan meninggalkan kesan mendalam bagi kami,” tutup Uung. (har)






