Kediri (beritajatim.com) – Di sebuah rumah di Desa Toyoresmi, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, waktu seolah berjalan seirama dengan gerak lincah jemari Siti Musripah. Sejak pukul 06.00 WIB, perempuan berusia 40 tahun ini sudah bergulat dengan tumpukan benang warna-warni.
Di atas kursi rodanya, Siti membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah tembok penghalang untuk menciptakan kemandirian ekonomi.
Perjalanan Siti di dunia kriya dimulai pada tahun 2014. Awalnya, ia hanya sekadar mencoba-coba setelah melihat indahnya tekstur barang-barang rajutan. Rasa penasaran itu membawanya belajar secara otodidak.
“Pertama coba-coba, karena lucu (lihat rajutan) terus pengerjaannya cepat,” kenangnya saat ditemui di kediamannya. Siapa sangka, dari sekadar hobi pengisi waktu, kini lahir brand “Siti Handmade” yang menjadi tumpuan hidupnya.
Menyulap Benang Menjadi Karakter Lucu
Produk buatan Siti dikenal unik dan memiliki detail yang rapi. Ia banyak memproduksi dompet, tas, hingga aksesori kecil. Namun, primadona dari usahanya adalah gantungan kunci. Karakter seperti teddy bear dan bebek menjadi yang paling sering diburu pelanggan karena bentuknya yang menggemaskan.
Ketelatenan Siti membuahkan hasil yang produktif. Dalam sehari, ia mampu merajut 5 hingga 20 item tergantung tingkat kesulitan motifnya. Untuk menjaga kualitas, Siti memilih bahan benang jenis milk cotton.
“Benangnya pesan, biasanya lewat Shopee. Milk cotton kalau di Kediri jarang. Bahannya lebih halus, empuk, dan ringan,” jelasnya.
Meski bekerja sendiri tanpa asisten, Siti tetap mampu melayani pesanan dalam skala besar, terutama untuk kebutuhan souvenir acara pernikahan, Lebaran, hingga Natal. Kreativitasnya pun terus berkembang; saat musim Lebaran tiba, ia sering membuat karakter rajutan berhijab yang sangat diminati pasar.
Dari Kediri Menembus Pasar Bali dan Luar Negeri
Melalui strategi pemasaran digital di Instagram dan Facebook, karya Siti kini terbang jauh melampaui batas desa. Pelanggannya tersebar mulai dari Bojonegoro, Madiun, hingga Bali. Bahkan, produknya tercatat pernah menembus pasar luar negeri.
Siti mengungkapkan bahwa pesanan dari Bali merupakan salah satu penyokong utama produksinya.
“Kalau di Bali, pesanan bisa mencapai 200 hingga 400 unit dalam sebulan untuk dijual kembali,” tambahnya. Dengan harga yang ramah di kantong mulai dari Rp8 ribu hingga Rp35 ribu produk Siti Handmade memiliki daya saing yang tinggi di pasar reseller.
Namun, menjalankan usaha secara mandiri tetap memiliki tantangan tersendiri. Kendala utama yang sering ia hadapi adalah masalah logistik bahan baku. “Kendalanya itu bahannya. Kalau pas pengerjaan tinggal sedikit ternyata benangnya habis, itu sering jadi hambatan,” tuturnya.
Asa dari Komunitas DIKTA
Semangat Siti kian berkobar sejak ia bergabung dengan komunitas Disabilitas Kediri Tangguh (DIKTA). Wadah ini memberinya ruang untuk bersosialisasi dan mempromosikan karyanya melalui berbagai acara pameran dan festival. Dukungan komunitas membuatnya merasa tidak sendirian dalam berjuang.
Menatap masa depan, Siti tidak ingin berhenti hanya sebagai perajin rumahan. Ia memiliki mimpi besar untuk mengembangkan “Siti Handmade” menjadi unit usaha berskala pabrik dengan jangkauan toko online yang lebih luas.
Kisah Siti Musripah adalah pengingat bahwa di tangan orang yang bertekad kuat, seutas benang bisa dirajut menjadi sebuah harapan besar yang menginspirasi banyak orang. Cukup menarik melihat bagaimana sektor UMKM kreatif di Kediri tetap tumbuh dengan semangat inklusivitas seperti yang dijalankan Bu Siti. [nm/beq]






