Gresik (beritajatim.com) – Musim kemarau belum benar-benar mencapai puncaknya, namun kekhawatiran mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Gresik. Di tengah ancaman kekeringan yang diprediksi meningkat mulai Mei hingga Agustus 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bergerak cepat menyiapkan langkah penyelamatan agar krisis air tidak berubah menjadi bencana kemanusiaan.
Suasana waspada kini mulai terasa di beberapa desa rawan kekeringan seperti Kecamatan Panceng, Sidayu, Duduksampeyan, hingga Balongpanggang. Bagi sebagian warga, musim kemarau bukan sekadar cuaca panas, tetapi juga ancaman sulitnya air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Pelaksana BPBD Gresik, Sukardi, mengatakan pihaknya telah memperkuat mitigasi sejak dini guna mengantisipasi dampak kekeringan dan kebakaran hutan maupun lahan (karhutla).
“Mitigasi kami lakukan melalui sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya kekeringan dan karhutla, termasuk langkah pencegahannya,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Tak hanya sosialisasi, BPBD juga mulai melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan untuk mempercepat penanganan apabila kondisi memburuk. Langkah teknis seperti optimalisasi waduk dan embung juga mulai dilakukan agar cadangan air tetap tersedia saat musim kering mencapai puncaknya.
Yang paling menyita perhatian, BPBD telah menyiapkan sekitar 250 tangki air bersih untuk membantu masyarakat terdampak. Bantuan ini diproyeksikan menjadi penyelamat warga di desa-desa yang selama ini kerap mengalami krisis air saat kemarau panjang datang.
Di sisi lain, perlengkapan darurat juga mulai dikirim ke sejumlah kecamatan. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Gresik, F.X. Driatmiko Herlambang, mengungkapkan distribusi tandon air, tandon lipat, hingga terpal telah dilakukan sejak beberapa hari terakhir. “Mulai kemarin kami kirim tandon, tandon lipat, dan terpal ke wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan,” tuturnya.
Wilayah yang menjadi perhatian khusus antara lain Panceng termasuk Desa Surowiti, Sidayu, Cerme, Kedamean, Driyorejo, Benjeng, hingga Balongpanggang. Daerah-daerah tersebut dinilai memiliki risiko tinggi mengalami penurunan pasokan air bersih ketika musim kemarau mencapai puncaknya pada Juli hingga Agustus mendatang. (dny/kun)






