Ringkasan Berita:
- Investasi Kota Blitar 2025 mencapai Rp437,52 miliar dengan pertumbuhan hanya 1,11 persen.
- Sektor perdagangan, kesehatan, dan konstruksi masih dominan sepanjang 2025.
- Triwulan I 2026 menunjukkan pergeseran ke sektor keuangan dan asuransi.
- Pemkot menargetkan investasi 2026 sebesar Rp443 miliar dengan berbagai strategi.
Blitar (beritajatim.com) – Capaian investasi Kota Blitar sepanjang 2025 mencapai Rp437,52 miliar, namun hanya tumbuh 1,11 persen dibanding tahun sebelumnya, memunculkan tantangan baru dalam meningkatkan daya saing ekonomi di tengah persaingan regional.
Data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Blitar menunjukkan meski realisasi investasi berhasil melampaui capaian 2024, laju pertumbuhan yang tipis mengindikasikan adanya kecenderungan stagnasi atau kehati-hatian investor dalam menanamkan modal besar di sektor riil.
Sepanjang 2025, struktur investasi masih didominasi sektor perdagangan, kesehatan, dan konstruksi sebagai pilar konvensional ekonomi daerah. Namun, dinamika mulai berubah pada Triwulan I 2026.
Pada periode tersebut, realisasi investasi mencapai Rp109,5 miliar atau sekitar 24,72 persen dari target tahunan. Menariknya, sektor keuangan dan asuransi muncul sebagai penyumbang utama, diikuti perdagangan dan industri pengolahan.
Perubahan ini menjadi sinyal bahwa Kota Blitar mulai berkembang sebagai pusat aktivitas jasa dan perputaran keuangan, meskipun sektor manufaktur belum menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPMPTSP Kota Blitar, Erlin Ferida Kunawati, menyatakan optimisme terhadap pencapaian target investasi tahun 2026 sebesar Rp443 miliar.
“Beberapa strategi telah kami lakukan, mulai dari pendampingan dan pengawasan perizinan bagi calon investor, hingga penyusunan kebijakan agar Kota Blitar lebih ramah investasi,” ujarnya.
Secara matematis, capaian awal tahun ini dinilai masih berada di jalur yang tepat. Namun demikian, tantangan tetap besar untuk mendorong pertumbuhan investasi yang lebih berkualitas dan berdampak luas.
Kebijakan ramah investasi dinilai tidak cukup hanya berfokus pada kemudahan administratif. Pemerintah daerah perlu menawarkan keunggulan konkret, seperti kepastian infrastruktur dan stabilitas biaya operasional, agar mampu menarik investasi sektor produktif yang lebih berkelanjutan.
DPMPTSP kini dituntut mampu mengakselerasi pertumbuhan investasi agar tidak hanya berputar pada sektor jasa yang cenderung fluktuatif, tetapi juga mendorong sektor industri yang memiliki efek pengganda lebih besar bagi ekonomi daerah.
“Untuk mencapai target realisasi yang telah ditetapkan, bahkan diharapkan dapat melampauinya, beberapa strategi telah dilakukan oleh DPMPTSP, antara lain pendampingan dan pengawasan perizinan bagi masyarakat atau calon investor, penyusunan kebijakan agar Kota Blitar lebih ramah investasi sehingga dapat meningkatkan daya saing ekonomi, serta upaya menarik minat calon investor untuk membuka usaha di Kota Blitar,” pungkasnya. [owi/beq]






