Jakarta (beritajatim.com) – Kasus scamming atau penipuan berkedok cinta dan intelektual menjadi perbincangan hangat dalam diskusi yang digelar di Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Minggu (26/4/2026). Diskusi tersebut mengangkat tema “Menelusuri Jejak Juang Perempuan dalam Rumpun Kupu-Kupu” yang diselenggarakan oleh komunitas Perempuan Penulis Padma (Perlima), Padmedia Publisher, dan Perpusnas Press.
Topik penipuan ini berangkat dari salah satu cerpen berjudul “Laki-Laki Bernama R” karya Titik Kartitiani. Cerpen tersebut mengangkat kisah penipuan di lingkungan ilmiah oleh seorang pria yang mengaku sebagai ahli taksonomi.
Dalam ceritanya, pelaku memanfaatkan kepercayaan korban dengan dalih membutuhkan dana untuk penelitian penamaan jenis tanaman. Para korban, yang mayoritas perempuan intelektual, kemudian diminta mengeluarkan uang dalam jumlah besar.
“Ada korban yang mengalami kerugian hingga lima ratus sampai enam ratus juta rupiah. Ternyata uang tersebut digunakan pelaku untuk kepentingan pribadi,” ungkap Titik, yang juga jurnalis lingkungan.

Ia menjelaskan bahwa berbeda dengan stigma umum, korban dalam kasus ini bukan sekadar mencari kasih sayang, melainkan perempuan mapan secara intelektual. Pelaku memanfaatkan kepercayaan dan kedekatan intelektual untuk melancarkan aksinya.
“Yang dimainkan adalah kepercayaan, sehingga korban merasa nyaman secara intelektual. Dari situ muncul rasa percaya yang membuat mereka bersedia memberikan uang,” ujarnya.
Kasus tersebut kini telah berjalan selama empat tahun dalam proses hukum. Namun, penanganannya dinilai lambat karena dianggap kurang menarik perhatian penegak hukum.
Menurut Titik, kondisi ini menunjukkan perlunya payung hukum yang lebih jelas untuk menangani kasus penipuan dengan modus serupa.
Cerpen “Laki-Laki Bernama R” merupakan satu dari 12 karya dalam buku antologi yang diterbitkan Padmedia Publisher. Seluruh cerpen dalam buku tersebut ditulis oleh perempuan dengan tema perjuangan dalam berbagai aspek kehidupan.
Hari Ibu
Pimpinan Padmedia Publisher, Wina Bojonegoro, menyebut buku ini disiapkan sebagai bagian dari peringatan Hari Ibu 22 Desember 2025. Ia menegaskan bahwa makna Hari Ibu di Indonesia berakar dari sejarah perjuangan perempuan sejak Kongres Perempuan 1928.
Diskusi yang digelar pada April ini juga bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kartini, yang memiliki semangat sejalan dengan tema buku tersebut.
Dalam diskusi itu, penulis senior Soesi Sastro menilai buku ini sarat dengan pengalaman perempuan dari berbagai sudut pandang. Ia menyebut setiap cerpen menghadirkan konflik yang beragam, mulai dari relasi keluarga hingga pencarian jati diri.
“Benang merahnya adalah keinginan perempuan untuk memberi manfaat bagi orang lain,” jelasnya.

Dari sisi sastra, Soesi menilai gaya bahasa dalam buku tersebut beragam, mulai dari lugas hingga puitis, dengan penggunaan metafora yang kuat dan reflektif.
Pembahas lainnya, Vivid Sambas, menyoroti strategi perempuan dalam menghadapi persoalan hidup yang tergambar dalam cerita. Ia menyebut pendekatan tersebut dapat dirangkum dalam konsep 4A, yakni avoid, alter, adapt, dan accept.
Penerbitan Gratis
Selain diskusi buku, peserta juga mendapatkan informasi terkait peluang penerbitan gratis melalui Perpusnas Press. Pimpinan Redaksi Perpusnas Press, Ansyari, menyampaikan bahwa pihaknya membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menerbitkan karya bertema literasi.
“Perpusnas Press menerima naskah tentang perpustakaan, pustakawan, peningkatan minat baca, hingga naskah kuno, yang akan diterbitkan secara gratis,” ujarnya.
Ia juga mendorong komunitas untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan daerah sebagai ruang diskusi dan kegiatan literasi.
“Perpustakaan daerah seharusnya menjadi ruang bagi komunitas lokal. Diskusi buku tidak harus selalu di Perpusnas,” pungkasnya. (but)






