Ringkasan Berita:
- STIE Malangkuçeçwara menggelar seminar literasi keuangan pada 27 April 2026.
- Seminar menghadirkan OJK, BEI, dan praktisi sekuritas sebagai narasumber.
- Mahasiswa dibekali pemahaman membedakan investasi legal dan bodong.
- Momentum fluktuasi rupiah dinilai penting untuk edukasi investor muda.
Malang (beritajatim.com) – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi STIE Malangkuçeçwara atau Kampus ABM Malang menggelar Seminar Terbuka Literasi Keuangan pada Senin (27/4/2026). Kegiatan ini bertujuan membekali mahasiswa agar tidak terjebak dalam praktik investasi bodong di tengah maraknya penawaran investasi ilegal.
Seminar yang berlangsung di Gedung Padepokan tersebut merupakan kolaborasi antara Unit Kegiatan Mahasiswa Wahana Pengembangan dan Penalaran Ilmiah Mahasiswa (WAPPIM) dengan Kelompok Studi Pasar Modal (KSPM) STIE-MCE.
Dalam forum ini, kampus menghadirkan panel ahli yang terdiri dari regulator, penyedia pasar, hingga praktisi keuangan. Hadir sebagai narasumber antara lain perwakilan Otoritas Jasa Keuangan Malang, perwakilan Bursa Efek Indonesia, serta praktisi dari perusahaan sekuritas.

Wakil Ketua III STIE Malangkuçeçwara, Dr. Kadarusman, menegaskan pentingnya literasi keuangan bagi mahasiswa, terutama di era digital yang memudahkan akses terhadap berbagai instrumen investasi.
“Risikonya besar dan itu bisa dikatakan sebagai investasi bodong. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan bisa membedakan mana investasi yang bersifat legal dan maksimal, serta mana yang hanya bersifat penipuan,” ujarnya.
Ia menyoroti maraknya tawaran investasi dengan imbal hasil tetap yang tidak masuk akal, seperti 5 hingga 10 persen per bulan. Menurutnya, pola tersebut menjadi salah satu indikator kuat praktik investasi ilegal yang harus diwaspadai.
Antusiasme mahasiswa terhadap dunia investasi dinilai terus meningkat. Hal ini sejalan dengan bidang studi yang mereka tekuni, khususnya akuntansi dan manajemen. Melalui wadah KSPM, jumlah mahasiswa yang terjun sebagai investor di pasar modal juga menunjukkan tren positif.
Seminar ini juga menghadirkan nuansa emosional, karena salah satu pemateri merupakan alumnus STIE Malangkuçeçwara yang telah sukses di industri keuangan.
Di sisi lain, momentum pelaksanaan seminar bertepatan dengan kondisi nilai tukar rupiah yang sedang berfluktuasi. Kadarusman menilai kondisi ini justru menjadi peluang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami dinamika pasar.
Ia mencontohkan pengalaman saat pandemi COVID-19, di mana ketidakpastian ekonomi justru mendorong peningkatan partisipasi generasi muda di pasar modal, baik di Indonesia maupun negara lain di Asia.
“Bagi value investor, saat Rupiah sedang tidak baik-baik saja justru menjadi momentum untuk masuk. Pemahaman tentang investasi bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi bagaimana mengelola risiko secara cerdas,” pungkasnya. [dan/beq]






