Ringkasan Berita:
- FISIP UB menjalin kerja sama akademik dengan HCMC-OU Vietnam pada April 2026.
- Kolaborasi menekankan pentingnya konektivitas kawasan Asia Tenggara.
- UB menawarkan program internasional untuk menarik mahasiswa Vietnam.
- Kerja sama ini memperkuat diplomasi akademik Indonesia di tingkat regional.
Malang (beritajatim.com) – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) menandatangani kerja sama akademik dengan Ho Chi Minh City Open University (HCMC-OU), Vietnam, sebagai langkah strategis memperkuat konektivitas kawasan Asia Tenggara. Kolaborasi ini diwujudkan melalui kuliah tamu dan diskusi akademik yang berlangsung pada 22–25 April 2026.
Delegasi FISIP UB dipimpin Wakil Dekan Bidang Akademik Reza Safitri, Ph.D., bersama Sekretaris International Relation Office (IRO) Dewa Putu Ayu Eva Wishanti, Ph.D., serta tim akademik lainnya. Kegiatan ini menjadi implementasi nyata kerja sama antar perguruan tinggi dalam mendorong pertukaran ilmu dan penguatan jejaring internasional.
Dalam forum tersebut, Eva Wishanti menekankan bahwa konektivitas kawasan menjadi pilar utama dalam membangun kerja sama regional yang berkelanjutan. Ia menyebut stabilitas Asia Tenggara sangat ditentukan oleh keterhubungan antar masyarakat serta integrasi logistik dan ekonomi.
“Konektivitas bukan sekadar soal infrastruktur, melainkan tentang membangun hubungan antar masyarakat atau people-to-people connectivity. Jalur logistik yang kuat, seperti rute pelabuhan Surabaya–Ho Chi Minh City, menjadi bukti nyata betapa tingginya interdependensi antara Indonesia dan Vietnam saat ini,” ujarnya.
Selain membahas isu strategis kawasan, FISIP UB juga mempromosikan dua program internasional unggulan, yaitu BISMA (Brawijaya International Student Mobility Award) dan BASIS (Brawijaya Academic Student Immersion Program). Kedua program ini dirancang untuk menarik mahasiswa asing agar dapat mempelajari dinamika sosial-politik Indonesia secara langsung.
Program tersebut menawarkan pengalaman komprehensif, mulai dari kegiatan akademik di kelas hingga workshop budaya seperti seni Topeng Malangan dan membatik, serta studi lapangan di Malang Raya.
FISIP UB berharap kerja sama ini dapat meningkatkan minat mahasiswa Vietnam untuk melanjutkan studi maupun mengikuti program pertukaran pelajar di Indonesia.
Eva juga menegaskan pentingnya memperkuat kajian Studi Asia Tenggara dalam kurikulum pendidikan tinggi, mengingat kawasan ini memiliki peran strategis dalam ketahanan ekonomi global dan diplomasi regional.
“Indonesia dan Vietnam memiliki kedekatan unik, mulai dari kemiripan budaya hingga kerja sama ekonomi yang erat. Popularitas kuliner Vietnam di Indonesia hanyalah puncak gunung es dari potensi kolaborasi yang bisa digali melalui riset bersama dan mobilitas mahasiswa,” tambahnya.
Kerja sama ini menjadi bagian dari komitmen FISIP UB dalam mendorong diplomasi akademik Indonesia di tingkat regional. Selain membuka peluang riset kolaboratif, kolaborasi ini juga memperkuat posisi strategis Indonesia dalam dinamika Asia Tenggara. [dan/beq]






