Dari Ternate, kita mendengar cerita tentang kemenangan dan kesetiaan malam itu. Tentang kemenangan 2-0 atas tuan rumah Malut United di Stadion Kie Raha, Kamis (23/4/2026). Tentang sebuah anomali bagi Persebaya Suirabaya.
Persebaya sebenarnya juga mengalahkan Bali United dalam laga kandang dan tandang (5-2 dan 3-1) dan menaklukkan Persita masing-masing 1-0 di Tangerang dan Surabaya, Namun kemenangan atas Malut United lebih istimiewa, karena tim tersebut berada di posisi lima besar klasemen saat ini.
Sementara Persebaya tidak pernah bisa menang empat tim lima besar lainnya, seperti Persib Bandung, Borneo FC, Persija Jakarta, dan Bhayangkara Presisi Lampung FC. Bahkan dari Persija, Persebaya menelan kekalahan di kandang dan tandang.
Jika dua gol kemenangan Persebaya di Gelora Bung Tomo pada putaran pertama diborong pemain impor asal Timor Leste Gali Freitas, kali ini dua gol kemenangan di Kie Raha disumbangkan dua pemain impor juga, Milos Raickovic pada menit 73 dan Francisco Rivera pada menit 90+1.
Berbeda dengan pertandingan pada putaran pertama yang dominasi penguasaan bola Malut United mencapai 81 persen, kali ini pertandingan lebih berimbang. Situs resmi Persebaya melansir penguasaan biola Malut United hanya 53 persen. Akurasi operan Persebaya pun jatuh lebih baik (81 persen) dibandingkan putaran pertama di GBT (64 persen).
Statistik itu setidaknya menjelaskan bahwa permainan Persebaya di Kie Raha lebih berani dan jauh berbeda dibandingkan saat di GBT. Malut United memang lebih banyak menembakkan bola ke gawang Persebaya (13 kali dan enam di antaranya akurat). Namun jumlah ini jauh di bawah statistik di GBT (25 tembakan ke gawang).
Sementara jumlah tembakan Persebaya ke gawang Malut United yang dijaga Angga Saputro hanya delapan kali, tiga di antaranya tepat sasaran. Tak jauh berbeda dari pertandingan di Gelora Bung Tomo (sembilan tembakan).
Kisah kemenangan di lapangan hijau ini dibarengi kisah kesetiaan di tribun penonton. Puluhan Bonek datang dari Jawa dan pulau lain di luar Maluku Utara dengan naik kapal dan pesawat untuk mendukung langsung Persebaya.
Sebuah spanduk hijau terbentang di tepi pantai: Gembel Holiday. Jika dialihbahasakan, mungkin lebih mendekati judul lagu Iwan Fals: Libur Kecil Kaum Kusam.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan gembel sebagai melarat atau miskin sekali, dan secara peyoratif merujuk pada pengembara atau orang yang hidup di jalanan. Sebutan ‘gembel’ seringkali ditujukan pihak yang membenci Bonek.
Sebutan yang kemudian tidak ditampik sama sekali, karena pada dasarnya Bonek memang sering berada di jalan untuk mendampingi Persebaya bertanding di kota mana pun. Sebutan ‘gembel’ justru dijadikan sarkasme: kaum yang diledek miskin bisa membeli tiket pesawat untuk nonton pertandingan tandang Persebaya di luar Jawa.
Andhi Mahligai, salah satu ‘gembel’ itu, merogoh kocek total kurang lebh empat juta rupiah untuk membeli tiket pesawat berangkat dan pulang pesawat dari Makassar ke Ternate. Itu belum termasuk ongkos yang dikeluarkannya selama di Ternate.
“Saya merasa persebaya butuh dukungan, tidak bisa berjuang sendirian. Jika semua Bonek menggantungkan syal karena Persebaya sedang jelek, bagaimana bisa klub ini bangkit dari keterpurukan,” kata Andhi.
Andhi menyaksikan di tribun VIP bersama pendukung Persebaya yang berdomisili di Ternate. Sementara itu Bonek yang datang dari Surabaya dengan naik kapal bersama Bonek Ternate menempati tribun utara Kie Raha.
Kehadiran Bonek di Ternate ini sempat bikin terkejut pemain dan ofisial, yang tidak percaya suporter setia mereka jauh-jauh datang menjelajah lautan dan angkasa. Ujung tombak asal Montenegro Mihailo Perovic menghadiahkan jersey kepada seorang Bonek yang menemuinya. “Paling tidak Persebaya tahu bahwa mereka tidak berjalan sendirian,” kata Andhi.
Dan malam itu Andhi dan para ‘gembel’ lainnya akhirnya bergembira di Ternate, bagaikan lirik lagu Pijar Matahari milik Iwan Fals.
Seribu gembel ikut menari
Seribu gembel terus bernyanyi
Andhi menemukan atmosfer persahabatan di Ternate. Sebagian pendukung Malut United mengajak Bonek berfoto bersama. “Saya didatangi suporter lokal untuk diantar sampai hotel naik sepeda motor,” katanya.

Andhi juga membantu seorang perempuan setengah baya asli Ternate beratribut Persebaya untuk berfoto bersama dengan Koko Ari dan Francisco Rivera di pelataran stadion. “Saya sudah sarankan beliau agar meminta foto bersama di hotel tempat pemain menginap pada pagi keesokan harinya. Tapi beliau tidak bisa, karena harus menjaga kantin sekolah,” katanya.
Keceriaan malam itu ditutup dengan jamuan makan malam di rumah keluarga Alfan Suaib, sayap kanan Persebaya. Kepiting, ikan bakar, cumi, dan aneka masakan ikan laut khas Ternate tersaji di meja makan.
“Secara keseluruhan, semua pemain bermain disiplin, dan ada gairah untuk menang. Ini yang harus selalu dijaga pelatih Bernardo Tavares, karena tidak setiap pertandingan, gairah untuk menang ini terlihat,” kata Andhi.
Andhi tidak tahu mengapa gairah ini padam dalam beberapa kali pertandingan. Namun dia yakin 60 persen skuad saat ini masih layak dipertahankan untuk musim depan. Tinggal kini bagaimana mereka membuktikan kelayakan itu dalam laga-laga tersisa hingga pekan ke-34.
Tidak menjadi juara, tapi setidaknya membuat Bonek bergembira, seperti kata Iwan Fals:
Berilah tawa yang terkeras
Untuk obati tangis lalu
Limpahkan senang paling indah
Agar luka tak nyeri
Agar duka tak menari. [wir/but]






