Bondowoso (beritajatim.com) — Ratusan pelajar dari berbagai daerah di Jawa Timur menerima penghargaan dalam program Jawa Timur Young Changemaker Academy (JAYCA) dan The Duke of Edinburgh’s International Award (DOE) 2026, setelah menjalankan riset mikroplastik, survei tentang Gen Z, serta sosialisasi bahaya plastik sekali pakai.
Tiga orang pelajar SMAN 1 Driyorejo bahkan melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik, Ketua DPRD Kabupaten Gresik, serta Fraksi PKB sebagai upaya advokasi kebijakan berbasis data.
Kegiatan penganugerahan yang berlangsung di Pendopo Kabupaten Bondowoso ini menandai capaian peserta setelah mengikuti program pengembangan diri berbasis aksi sosial selama enam bulan. Dari lebih dari 150 pelajar yang mengikuti program, sebanyak 66 peserta dinyatakan lulus kualifikasi dan menerima penghargaan.
Dorongan Gen Z: Refill Air Minum di Sekolah
Salah satu usulan konkret yang mengemuka dari hasil riset dan advokasi siswa SMAN 1 Driyorejo adalah penyediaan fasilitas refill air minum di lingkungan sekolah.
“Untuk mengurangi dampak mikroplastik di bumi, kita harus mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Di sekolah harus disediakan refill air minum dan siswa-siswi membawa tumbler sehingga bisa isi ulang air. Aksi ini bisa mengurangi sampah plastik di lingkungan sekolah sekaligus mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam tubuh,” ungkap Krisna, salah satu siswa peserta program.
Lebih lanjut, Krisna menjelaskan bahwa usulan refill air minum tersebut merupakan rekomendasi dari para pelajar Gen Z di Kecamatan Driyorejo yang disampaikan langsung kepada DPRD dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gresik.
Apresiasi dan Dukungan
Direktur Regional Ashoka Asia Tenggara, Ir. Nani Zulminarni, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan awal dari perjalanan sebagai agen perubahan.
“Ketika piagam diterima, di situlah perjalanan dimulai. Changemaking menjadi jalan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik,” ujarnya.
Wakil Bupati Bondowoso, As’ad Yahya Syafi’i menyatakan program ini berperan dalam membentuk karakter generasi muda yang solutif. “Program ini memberi ruang bagi anak muda untuk tumbuh menjadi pemimpin yang mampu menghadirkan solusi di daerah masing-masing,” ujarnya.
Direktur Kerja Sama DOE Indonesia, Drs. Sonny Sukada, M.Sc., juga mengapresiasi konsistensi peserta. “Kalian tidak menunggu masa depan, kalian sedang menciptakannya,” katanya.
Riset dan Advokasi Berkelanjutan
Selain usulan refill air minum, siswa SMAN 1 Driyorejo juga menyusun policy brief berbasis hasil riset yang mencakup data timbulan sampah, kuesioner warga, serta integrasi kurikulum lingkungan. Dokumen tersebut telah diserahkan kepada pemerintah daerah sebagai rekomendasi kebijakan pengelolaan limbah di Kabupaten Gresik.
Penganugerahan JAYCA dan DOE 2026 menegaskan bahwa pelajar tidak hanya menjadi objek pendidikan, tetapi juga subjek perubahan. Dari riset ilmiah hingga advokasi kebijakan, langkah yang ditempuh para peserta menunjukkan kontribusi nyata dalam merespons krisis ekologi di Jawa Timur, termasuk melalui gagasan sederhana namun berdampak besar seperti penyediaan refill air minum di sekolah. (awi/aje)






