Madinah (beritajatim.com) – Jemaah haji Indonesia 2026 dapat mengunjungi Raudhah atau Taman Surga di Masjid Nabawi melalui dua skema utama, yakni pendaftaran kolektif yang difasilitasi pemerintah melalui izin tasreh serta pendaftaran mandiri menggunakan aplikasi Nusuk.
Pemerintah memberikan jaminan minimal satu kali kunjungan bagi seluruh jemaah dengan jadwal yang telah disinkronkan agar tidak berbenturan dengan agenda ziarah kota lainnya.
Untuk memastikan kelancaran akses, jemaah diimbau mengikuti arahan petugas Pembimbing Ibadah (Bimbad) dan selalu membawa identitas resmi seperti Kartu Nusuk saat menuju area mustajab tersebut.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, bahwa atmosfer di Madinah saat ini sudah dipadati jemaah gelombang pertama yang tiba sejak Rabu (22/4/2026).
Raudhah menjadi magnet utama karena merupakan area seluas 22×2 meter di antara makam Rasulullah SAW dan mimbar masjid yang diyakini sebagai tempat mustajab untuk berdoa.
Skema Tasreh Kolektif dari Pemerintah
Petugas Pembimbing Ibadah (Bimbad) di Sektor Bir Ali, Madinah, Agususanto, menjelaskan bahwa jemaah tidak perlu mengunduh aplikasi secara mandiri jika kesulitan, karena negara telah memfasilitasi izin masuk resmi. Sistem pendaftaran kolektif ini dikelola langsung oleh tim Bimbad yang menginput data jemaah untuk mendapatkan dokumen tasreh.
“Kami kembali memfasilitasi jamaah Indonesia untuk pendaftaran kolektif untuk (masuk) Raudhah. Jadi konsepnya adalah Bimbad yang bertanggung jawab untuk menginput seluruh data agar mendapatkan mendapatkan tasreh (izin masuk) memasuki Raudhah, dan itu adalah sistem kolektif, jadi akan dikontrol oleh sektor khusus dari Nabawi yang akan masuk rombongan,” kata Ustaz Agus.
Dalam satu lembar tasreh, biasanya tercantum maksimal 50 nama jemaah. Jumlah ini bisa menyesuaikan antara 40 hingga 45 orang tergantung kuantitas kuota yang tersedia pada slot waktu tersebut. Oleh karena itu, sinergi antara Ketua Rombongan (Karom) dan Ketua Regu (Karu) sangat diperlukan agar rombongan tetap utuh saat dilakukan pemeriksaan oleh otoritas setempat.
Penjadwalan Terintegrasi agar Tidak Bentrok
Jemaah haji, termasuk jemaah asal wilayah Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, dan sekitarnya, diminta untuk tetap bersabar menunggu giliran. Agususanto menegaskan bahwa setiap sektor akan menyosialisasikan jadwal yang sudah ditetapkan bekerja sama dengan pembimbing ibadah kloter.
“Jadi jamaah tinggal menunggu saja dan bersabar. Nanti ada jadwal masing-masing, dan Insya Allah jadwal ini akan diatur tidak bentrok dengan ziarah Kota Madinah. Jadi antara ziarah Raudhah dengan Madinah akan diatur sedemikian rupa agar semuanya bisa dinikmati oleh jamaah haji Indonesia,” jelas Agus.
Pilihan Pendaftaran Mandiri via Nusuk
Bagi jemaah yang ingin mengunjungi Raudhah lebih dari satu kali atau memilih waktu tertentu, pemerintah Arab Saudi juga menyediakan akses melalui aplikasi Nusuk.
Jemaah cukup mengunduh aplikasi tersebut di telepon pintar, memilih menu ‘Rawdah’, dan menentukan slot waktu yang tersedia seperti waktu fajar, dhuhr, ashar, maghrib, hingga isya.
Meskipun tersedia opsi mandiri, jemaah tetap diingatkan untuk mengutamakan jadwal kolektif demi alasan keamanan dan perlindungan petugas di lapangan.
Mengingat suhu di Madinah saat ini cukup terik, koordinasi dengan petugas berseragam resmi Kemenhaj RI sangat disarankan guna menghindari risiko kelelahan atau tersesat di area Masjid Nabawi yang sangat luas. [ian/but]






