Surabaya (beritajatim.com) – Pengukuhan Dossy Iskandar Prasetyo sebagai Guru Besar di Universitas Bhayangkara Surabaya, Rabu (22/4/2026), berkembang menjadi ruang refleksi mendalam tentang arah demokrasi dan kondisi kebangsaan Indonesia saat ini.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir dalam forum tersebut, di antaranya Surya Paloh, Saan Mustopa, Khofifah Indar Parawansa, serta Akbar Faizal, bersama kalangan akademisi dan pimpinan perguruan tinggi.
Dalam pidato ilmiahnya, Prof Dossy mengangkat tema “Ide Normatif Partai Politik dalam Konteks Konstitusi dan Cita Demokrasi”. Ia menegaskan bahwa partai politik tidak seharusnya terjebak menjadi sekadar kendaraan kekuasaan, melainkan berperan menjaga konstitusi, merawat etika demokrasi, serta menyalurkan aspirasi publik secara berintegritas.
Gagasan tersebut berhadapan dengan realitas yang disorot Surya Paloh. Ia menilai praktik politik saat ini semakin menjauh dari nilai ideal, tercermin dari ruang publik yang riuh namun kehilangan kedalaman.
Menurutnya, diskursus publik telah bergeser dari adu gagasan menjadi pertunjukan sensasi. Perdebatan dinilai berlangsung dangkal dan jauh dari isu-isu strategis yang seharusnya menjadi fokus.
“Yang kita lihat hari ini bukan kekayaan pikiran, tetapi kemiskinan nalar yang dipertontonkan. Ruang publik kian bising oleh opini tanpa dasar, perdebatan tanpa arah, dan kegaduhan yang miskin substansi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti melemahnya kohesi sosial di tengah masyarakat. Tingkat kepercayaan antarwarga dinilai menurun, sementara egoisme dan orientasi material semakin menguat.
Dalam situasi tersebut, nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan kebenaran kerap tereduksi menjadi sekadar slogan.
Surya Paloh menilai persoalan bangsa tidak hanya terletak pada kelemahan institusi, tetapi juga pada krisis karakter. Ia mengkritik kecenderungan saling menyalahkan tanpa diiringi keberanian untuk melakukan introspeksi.
“Bangsa ini gemar mencari kambing hitam, tetapi miskin keberanian untuk mengoreksi diri,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga menekankan pentingnya peran kalangan intelektual. Menurutnya, akademisi tidak cukup hanya menjadi produsen teori, tetapi harus hadir sebagai penjaga moral publik yang aktif memberi arah.
Perguruan tinggi diharapkan mampu melahirkan gagasan besar yang membumi, serta menjadikan ilmu pengetahuan sebagai instrumen koreksi sosial dan penggerak perubahan.
Momentum pengukuhan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa dunia akademik memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga kualitas demokrasi, terutama di tengah tantangan yang menyentuh aspek nilai dan integritas kehidupan berbangsa.
“Saya menyampaikan rasa bangga dan selamat atas pengukuhan Prof. Dossy, ini sekaligus jadi momentum pengingat akan pentingnya peran kaum intelektual. Pertarungan utama bangsa terletak pada menjaga integritas, kejujuran, dan kejernihan berpikir di tengah kebisingan,” tandasnya. [tok/beq]






