MEMBINASAKAN orang lain hanya demi kekuasaan ambisius, tak seharusnya terjadi. Tak perlu lagi ada tragedi Kurusetra seperti yang terjadi pada Pandawa dan Kurawa.
Demikian sepengal puisi karya penyair Latief Noor Rochmans yang berjudul Overture Kesadaran. Penggalan puisi ini mengingatkan bahwa perang seharusnya cukup terjadi pada masa lalu saja.
Biarlah perang menjadi dongeng purba
abadi dalam ingatan
senyap dalam dekapan cakrawala….
Puisi tersebut termuat di antologi puisi Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIII berjudul Layang-layang Tak Memilih Tangan. Latief salah satu dari ratusan penyair yang lolos dalam seleksi event yang digelar di Jakarta, September 2025, diikuti penyair Nusantara dan Asia Tenggara itu.
“Kenapa harus perang. Zaman semakin maju, orang makin berlogika, kenapa masih saling membunuh hanya untuk urusan yang belum jelas dan benar. Di bumi yang makin menua, hidup damai mestinya jadi pilihan,” ungkap Latief sastrawan yang tinggal di Sleman Yogyakarta.
Puisi menjadi pilihan Latief sejak pra remaja. Masuk SMP, dengan tegas dan lantang mengungkapkan cita-cita: jadi penyair. Sering membaca koran yang memuat tulisan sastra (puisi, cerpen, dan esai), membuatnya begitu terobsesi. Kagum sekaligus iri dengan penyair yang nama-namanya termuat di koran.
“Di mata saya mereka hebat. Nama terkenal, karya indah, bikin orang terpesona dan penasaran. Dari situ saya ingin jadi penyair. Orang tahu karya dan nama kita, tapi tidak tahu sosok kita seperti apa. Timbul imajinasi tentang sosok penyair tersebut. Saya membayangkan, penyair selalu berambut gondrong pada waktu itu. Berwibawa. Bergengsi. Kelas 2 SMP, tahun 1983, saya sudah nulis puisi. Tahun 1983-1985 rajin bikin puisi. Dokumentasinya masih ada,” terang Latief sambil menunjukkan puisi-puisi masa SMP yang tertulis di notes. Antara lain Selain Sore (ditulis 26/2/1984), Potret Diri (21/12/1983), Balada (9/10/1984), Irama Nadia (2/11/1985), Nyanyian Duka (1983), Sajak Hari Ini buat Tuhan (19/4/1983), Mimpi dalam Khayal (23/12/1983). Begitu ngebet jadi penyair, di masa SMP sudah bikin buku antologi puisi.
“Saya nulis pakai mesin tik milik teman. Kemudian saya jilid, dan saya perbanyak dengan fotokopi. Judulnya buku antologi Hela. Bukunya itu saya bagi pada teman dan guru. Saat SLTA saya juga bikin buku antologi puisi. Saya ketik manual juga. Judulnya lupa. Dua buku itu hilang. Untung notes legendaris saya masih tersimpan. Jadi bisa tahu perjalanan awal menulis puisi,” ucap bapak tiga anak dan kakek satu cucu itu.
[irp posts=”1455447″ ]
Karya Latief termuat di sejumlah antologi bersama. Antara lain Musik Puisi: dari istilah ke aksi (2005, esai), Ngeli Ning Ora Keli: Mengenang Dr H Soemadi M Wonohito (2008, esai), Rendra Berpulang: 1935-2009 (2009, kumpulan berita), Kumpulan Cerpen Minggu Pilihan Minggu Pagi: Tiga Peluru (2010, sekaligus editor), Suluk Mataram: 50 Penyair Membaca Yogya (2012, puisi, sekaligus editor), Parangtritis: 55 Penyair Membaca Bantul (2014, puisi), Antologi Bhayangkara (2018, puisi), Mider ing Rat (2018, proses kreatif cerpenis Yogyakarta), Kartini Menurut Saya (puisi, 2021), Toponimi 2: Dari Demak Bintoro Sampai Beteng Diponegoro (esai, 2022), Mitos-mitos Penjaga Mata Air (esai, 2024), Toponimi 3: Nyi Beruk Naik Gerobak ke Dawangsari (esai, 2024), Risalah Sunyi (puisi, 2025), Layang-layang Tak Memilih Tangan (puisi penyair Asia Tenggara, 2025), Empat Belas Purnama (Puisi 136 Penyair Indonesia, 2025), Manuskrip Indonesia (puisi, 2026).
Karya tunggalnya: Irama Nadia (2011, antologi puisi), Overture Kepasrahan (2011, antologi puisi), Gelas Terakhir (2011, kumpulan cerpen), Odyssey (antologi puisi, 2018).
Setelah menjadi wartawan Minggu Pagi tahun 1992, Latief mulai mempublikasikan karya di media cetak. Juga rajin menulis profil sastrawan dan esai sastra. Bahkan tak jarang tulisannya mengundang polemik panjang yang kemudian ditanggapi beberapa penulis.
Tahun 2007 memegang halaman sastra budaya. Idealisme Latief mencuat. Makin intens menulis sastra. Juga banyak membina penulis-penulis muda.
“Dulu banyak yang penulis pemula yang ngobrol di kantor, minta masukan. Diskusi. Bahkan mereka sempat saya satukan dalam komunitas sastra. Salah satunya Tanama. Namun kini sudah bubar karena anggota sudah berkeluarga. Di berbagai komunitas, saya juga kadang membantu. Dari dukungan langsung hingga materi. Saya senang orang lain bisa maju. Saya berusaha membantu semaksimal mungkin agar mereka eksis,” papar penulis berusia 57 tahun itu.
Kiprah Latief sebagai redaktur sastra di koran Minggu Pagi (kini di Kedaulatan Rakyat. Minggu Pagi jadi bagian koran Kedaulatan Rakyat, tidak terbit tersendiri). Ada rubrik yang tetap ia pertahankan hingga saat ini: rubrik sastra. Memuat profil sastrawan, resensi buku sastra, juga kegiatan sastra.
“Lewat rubrik ini saya ingin memberi ruang sastrawan. Menampilkan apa siapa mereka. Bentuk penghargaan bagi mereka yang telah berkecimpung di kancah sastra. Sekaligus menyemangati penulis baru untuk berkarya yang baik dan cerdas,” tandas Latief.
Eksistensi Latief sebagai sastrawan dan redaktur sastra diakui banyak penulis. Cerpenis Eko Triono menyebut Latief pencari bakat sastra di antara generasi muda. Peran itu dalam amatan Eko masih berlangsung hingga sekarang: 2026.
“Saya mengenal Mas Latief saat beliau menjadi redaktur ruang sastra Minggu Pagi. Pada tahun-tahun itu, sekitar 2008, para penulis muda di Yogya, Jawa Tengah dan Jawa Timur berlomba menembus meja redaksinya agar dimuat. Cerpen pertama saya dimuat di Minggu Pagi,” papar Eko yang kini dosen Fakultas Bahasa dan Seni Budaya Universitas Negeri Yogyakarta.
Eko salut pada Latief sebagai pembibit sastra melalui sejumlah kelas menulis tidak formal yang diampu, terjun ke sekolah-sekolah dan komunitas, serta mendampingi penerbitan karya sastra berbagai genre dan kalangan.
Pujian serupa diungkap sastrawan senior Budi Sardjono. Di matanya, Latief penulis dan redaktur sastra yang entengan dan ringan tangan.
“Tidak hanya berkarya untuk diri sendiri. Justru banyak memberdayakan dan memberikan kesempatan pada orang lain dan komunitas. Saya saksi hidup kiprah idealisnya di sastra. Rela keluar uang untuk sastra. Seperti mengadakan lomba cerpen, membantu pementasan sastra,” papar novelis warga Dayu Sleman yang barusan merilis novel terbaru Seribu Tusuk Konde: Pertempuran di Blambangan.
Bagi Latief, berkiprah di sastra dituntut tidak egois.Tidak hanya memikir karya dan eksistensi sendiri. Juga peduli pada orang lain. Misalnya, membimbing dan memberi kesempatan penulis pemula atau komunitas agar maju dan eksis. Tanpa menghitung imbalan alias gratisan.
“Sastrawan jangan mengkalkulasi untung rugi saat berkiprah di kancah sastra. Tulus. Jangan hanya mau gerak jika ada bayaran. Untungnya, banyak orang seperti itu: tak pernah berhitung,” ucap Latief yang juga dikenal sebagai editor buku, mentor, pembicara, dan juri lomba sastra. [aje]






