Kediri (beritajatim.com) – Dinas Sosial Kota Kediri langsung menerjunkan tim untuk memberikan pendampingan psikologis dan bantuan pengobatan kepada keluarga korban Ni (4), bocah asal Kelurahan Ngronggo yang tewas diduga akibat penganiayaan pada Rabu (15/4/2026).
Peristiwa tragis ini terjadi di wilayah Kelurahan Ngronggo, Kota Kediri, ketika Ni ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada Rabu sore. Korban diduga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan anggota keluarganya sendiri. Polisi bergerak cepat dengan mengamankan kedua orang tua serta nenek korban untuk menjalani pemeriksaan intensif.
Kepala Dinas Sosial Kota Kediri, Imam Muttaqin, menyatakan bahwa pihaknya fokus pada penanganan dampak psikologis keluarga serta bantuan medis bagi pihak terdampak.
“Tadi mbak wali juga sudah menyampaikan. Intinya kita harus yang pertama terkait penanganan terkait psikologisnya untuk anak-anaknya, keluarganya, kemudian dan juga terkait dengan bantuan pengobatan untuk yang terdampaklah seperti itu. Kita saat ini masih prosesnya,” jelasnya.
Menurut Imam, ke depan pihaknya akan memperkuat peran lingkungan terkecil seperti RT dan kelurahan agar kasus serupa tidak terulang, terutama dalam hal pendataan warga.
“Kalau dari dinsos kan dari hulu sekali ya, terlalu jauh kalau kayak gini ada kecil gini harusnya dari misalnya dari RT lanjut ke kelurahan, kelurahan baru disampaikan kita nanti kita pasti akan turun tapi hal-hal kayak seperti ini kan sayang sekali kita tidak bisa, apa ya baru terendus. Seperti ini gitu ke depannya kita maksimalkan lagi peran kelurahan di juga rt,” jelasnya.
Selain Ni, dua kakaknya yakni Vi (6) dan Fi (7) juga diduga mengalami kekerasan. Dugaan ini menguat setelah warga menemukan luka memar di tubuh korban saat meninggal dunia.
Kerabat korban, Bagas Mohammad Suriyadi (21), mengungkapkan adanya tanda-tanda mencurigakan saat kedua kakak korban dibawa ke rumahnya usai dari Polres.
“Ada bekas luka. Cek di pinggang kanan kiri kayak memar. Kalau yang bekas roko itu, sementara itu belum tahu, soalnya enggak ada yang merokok katanya,” katanya.
Bagas menambahkan, selama ini Ni dikenal sebagai anak yang aktif bermain bersama kedua kakaknya. Korban tidak pernah secara terbuka mengeluhkan kekerasan, meski terkadang menangis saat dimarahi.
“Enggak (cerita), cuma kalau, kan nangis ditanyain kenapa? Kadang cerita kadang nggak? Ya jawabnya dimarahin,” katanya.
Saat ini, kedua kakak korban telah berada dalam kondisi aman bersama keluarga. Meski demikian, keduanya terkadang terlihat pendiam. “Biasa bermain (kedua kakaknya). Tapi kadang diam, kadang aktif,” ungkapnya.
Sementara itu, kakak tiri korban, Muhammad Wahyudi atau Edy (26), mengaku tidak mengetahui kejadian tersebut karena tidak tinggal serumah. Ia berharap kasus ini segera terungkap secara jelas. “Ya, diusut saja,” terangnya.
Hingga kini, ibu korban Hariyani, ayah tiri Wito, serta neneknya Sumilah masih menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Satreskrim Polres Kediri Kota. [nm/kun]






