Kekalahan 0-3 dari Persija Jakarta di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (11/4/2026), sebenarnya memetakan posisi Persebaya Surabaya di hadapan dua rival klasiknya semasa era Perserikatan. Tiga gol Persija yang dicetak Allano (menit 16) dan Eksel Runtukahu (54 dan 76) di hadapan 39.443 penonton menunjukkan ketertinggalan Persebaya dibandingkan Persija, apalagi Persib Bandung.
Persebaya beruntung hanya kebobolan tiga gol. Dengan buruknya sektor pertahanan Persebaya malam itu yang dibombardir 12 tembakan (enam di antaranya tepat sasaran), penampilan kiper Andhika Ramadhani menjadi pembeda.
Menit ke-56, Andhika memangkas umpan cutback Allano Souza di depan mulut gawang yang mengarah ke Eksel Runtukahu. Lima belas menit kemudian, dia memblok bola tendangan Eksel dalam posisi satu lawan satu.
Namun, Andhika saja tak cukup. Dari sepuluh percobaan tembakan ke gawang Persija, tak satu pun yang akurat. Jadi, dari mana Persebaya akan mengharapkan gol balasan, apalagi gol kemenangan?
Sejak 2018, saat Persebaya pertama kali bermain di Liga 1 (yang sekarang bernama Super League), Persija sudah merebut satu gelar juara (2018) dan Persib merebut dua gelar (2023-2024 dan 2024-2025). Sementara posisi tertinggi Persebaya di klasemen akhir adalah peringkat dua pada musim 2019.
Dari aspek rekor head-to-head, Persebaya masih belum bisa melampaui Persib Bandung. Green Force hanya empat kali menang melawan Persib dan kalah tujuh kali. Sisanya, tiga kali bermain imbang. Situasi ketat justru terjadi saat Persebaya menghadapi Persija Jakarta. Persebaya meraih empat kemenangan, empat kekalahan, dan enam hasil imbang.
Persib juga unggul dalam akumulasi klasemen akhir sejak 2018. Tanpa mempertimbangkan klasemen akhir musim 2025-2026, Persib jauh meninggalkan dua rivalnya dengan memanen 365 poin yang diperoleh dari 101 kemenangan, 62 hasil seri, dan 41 kekalahan.
Sementara Persebaya dan Persija hanya terpaut satu angka, masing-masing 317 dan 316 poin. Selama enam musim (musim 2020 dan 2021 liga ditiadakan karena Covid-19), Persebaya mencatat 86 kemenangan, 59 hasil seri, dan 59 kekalahan. Sementara Persija menang 86 kali, imbang 58 kali, dan kalah 60 kali.
Dari aspek ketajaman lini depan, selama enam musim, Persib berhasil mencetak 325 gol dan hanya kebobolan 223 gol. Kinerja Maung Bandung lebih bagus daripada dua rivalnya. Namun, catatan rekor Persebaya lebih tajam daripada Persija (299 gol berbanding 282 gol).
Catatan terburuk Persebaya ada pada lini pertahanan. Selama enam musim, Bajul Ijo kebobolan 255 gol. Bandingkan dengan Persija yang hanya kebobolan 224 gol. Problem ini belum juga diperbaiki hingga saat ini.
Musim 2025-2026 segera usai. Gelar juara sudah tak mungkin terkejar di sisa tujuh pertandingan. Dengan melihat selisih angka di klasemen, yang paling realistis adalah memperebutkan posisi keempat dengan Malut United, Bhayangkara Presisi Lampung FC, Persita Tangerang, dan Dewa United.
Tujuh pertandingan tersisa adalah saat yang paling ideal bagi pelatih Bernardo Tavares untuk mengevaluasi penampilan anak-anak asuhnya, sembari menyusun daftar pemain yang perlu dilepas dan dipertahankan. Dalam tujuh pertandingan, lubang-lubang di lini depan, tengah, dan belakang sudah bisa dibaca.
Musim 2026-2027 akan menjadi musim yang krusial. Tidak hanya karena urusan persaingan dengan Persija dan Persib, namun juga menjadi momen bagi Persebaya untuk merayakan satu abad usia dengan target gelar juara. [wir/kun]






