Jakarta (beritajatim.com) – Konflik Iran-Amerika Serikat pada awal 2026 ini tercatat memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, dengan harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 40 persen hingga melampaui US$100 per barel. Untuk itu, pemerintah telah menyiapkan langkah mitigasi darurat guna menjamin pasokan energi nasional di tengah lonjakan harga minyak mentah dunia.
Menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Laode Sulaeman, ketegangan militer di Selat Hormuz telah menghambat jalur ekspor vital ke Asia. Merespons kondisi tersebut, pemerintah kini fokus mencari sumber impor alternatif yang tidak melewati jalur konflik tersebut guna mengamankan ketersediaan BBM dan LPG domestik.
“Pemerintah melakukan penguatan kerja sama bilateral, seperti hasil kunjungan ke Jepang yang memberikan kita alokasi LPG tambahan. Kami juga melakukan pengadaan dari sumber-sumber impor selain yang melewati Selat Hormuz untuk menghindari risiko gangguan distribusi,” ujar Laode Sulaeman saat diskusi di Fraksi PKB, Selasa (14/4/2026).
Dia mengungkapkan, selain diversifikasi sumber impor, Kementerian ESDM juga menginstruksikan optimalisasi kapasitas kilang dalam negeri untuk memacu produksi BBM dan LPG secara mandiri. Langkah ini dibarengi dengan pengaturan ketat pada sisi konsumsi masyarakat agar stok yang ada tetap mencukupi hingga situasi geopolitik mereda.
Pemerintah, kata Laode, memprediksi dinamika geopolitik akan terus menekan kondisi makroekonomi global. Oleh karena itu, diversifikasi sumber energi dan percepatan transisi energi menjadi agenda krusial agar ketahanan energi nasional tidak mudah goyah oleh konflik antarnegara besar di kawasan strategis dunia.
“Konflik ini memicu shock terhadap pasar energi. Aktivitas militer di Selat Hormuz memaksa adanya percepatan pergeseran strategis, dari ketergantungan pada energi Timur Tengah menuju pemasok alternatif. Ini bukan lagi sekadar mitigasi jangka pendek, tapi harus menjadi strategi jangka panjang menuju kemandirian energi,” tegasnya. (kun)






