Ringkasan Berita
* Pameran “Manufacturing Surabaya 2026” edisi ke-20 resmi dibuka di Grand City Convex Surabaya (15–18 Juli 2026).
* Ajang manufaktur terbesar di Indonesia Timur ini diikuti oleh lebih dari 150 eksibitor dari 17 negara dengan total area pameran mencapai 7.887 meter persegi.
* Langkah strategis ini didukung penuh oleh Wakil Gubernur Jatim, Emil Dardak, guna mempercepat transisi energi hijau di sektor manufaktur Jawa Timur yang menyumbang 31,45% terhadap PDRB provinsi—sekaligus mendukung komitmen Indonesia menuju net-zero carbon economy pada 2050.
————————————————————————–
Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah tuntutan global untuk menerapkan praktik ramah lingkungan, pameran manufaktur terbesar di Indonesia Timur Manufacturing Surabaya 2026 resmi dibuka pada Rabu, 15 Juli 2026.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, edisi ke-20 ini tidak hanya memamerkan kecanggihan mesin, tetapi juga menjadi panggung kolaborasi raksasa untuk mempercepat transisi energi hijau di sektor industri.
Diselenggarakan oleh Pamerindo Indonesia di Grand City Convention & Exhibition Center (Convex) Surabaya hingga 18 Juli 2026, pameran ini tampil jauh lebih megah dengan data dan skala berikut:
* Jangkauan Internasional: Diikuti oleh lebih dari 150 eksibitor terkemuka yang datang langsung dari 17 negara.
* Luas Area: Memanfaatkan ruang kolaborasi seluas 7.887 meter persegi.
* Sinergi Multisektor: Untuk pertama kalinya, pameran ini bersinergi langsung dengan tiga pameran besar lainnya: Electric & Power Surabaya, Water Indonesia Surabaya, dan Growtech Indonesia di bawah payung besar Indonesia Energy Week Surabaya 2026.
Pemilihan Surabaya sebagai pusat pameran ini bukanlah tanpa alasan. Jawa Timur saat ini memegang peranan krusial dalam perekonomian nasional.
Data Bappeda Jatim pada Triwulan I 2026 mencatat pertumbuhan ekonomi provinsi ini sebagai yang tertinggi di Pulau Jawa. Sektor industri pengolahan (manufaktur) tetap menjadi tulang punggung utama dengan kontribusi mencapai 31,45% terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur.
Secara nasional, kontribusi manufaktur Jatim menyumbang sekitar 22% dari total industri manufaktur Indonesia. Angka-angka ini menegaskan bahwa setiap langkah transformasi teknologi di Jatim akan berdampak besar pada skala nasional.
Hadir membuka acara, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menekankan bahwa daya saing industri masa kini tidak lagi hanya diukur dari seberapa banyak barang yang bisa diproduksi. Kunci utamanya kini bergeser pada kesiapan energi dan prinsip keberlanjutan.
“Transisi energi tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi harus dicicil mulai sekarang. Caranya melalui peralihan sumber energi dan konservasi energi atau meningkatkan efisiensi penggunaan energi,” ujar Emil Dardak. Langkah ini krusial demi mendukung target nasional menuju net-zero carbon economy pada tahun 2050.
Senada dengan Emil, Meysia Stephanniea, Portfolio Director PT Pamerindo Indonesia, menjelaskan bahwa pameran ini dirancang sebagai ruang ekosistem yang terintegrasi, bukan sekadar tempat pajangan mesin.
“Transformasi manufaktur tidak hanya ditentukan oleh kehadiran teknologi baru, tapi juga oleh kemampuan para pelaku industri untuk saling terhubung, berbagi pengetahuan, dan membangun rantai pasok yang semakin kuat serta berkelanjutan,” ungkap Meysia. [rea]







