Gol Francisco Rivera pada menit 62 memastikan kemenangan 1-0 Persebaya atas Persita Tangerang, di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Sabtu (4/4/2026) malam. Ini kemenangan yang dibutuhkan untuk mengerek Persebaya ke peringkat enam klasemen sementara di pekan ke-26 Super League 2025-26.
Tinggal delapan pertandingan lagi yang harus dilakoni Persebaya, tiga di antaranya di hadapan publik sendiri. Jika ingin menggapai posisi terhormat di empat besar, kemenangan tiga pertandingan kandang menghadapi Madura United, PSBS Biak, dan Persik Kediri harus dimenangi.
Kemenangan di laga kandang setidaknya bakal sedikit mengompensasi hasil buruk di laga tandang. Lima pertandingan tandang tak ada yang mudah. Anak-anak asuhan Bernardo Tavares ini akan menghadapi Persija Jakarta, Malut United Ternate, Arema Malang, Persis Solo, dan Semen Padang.
Kualitas skuad Persija dan Malut lebih baik daripada Persebaya, jika mengacu pada klasemen sementara hingga pekan ke-26. Persija di peringkat ketiga dan Malut di peringkat keempat.
Arema berada di peringkat 11. Namun bermain di kandang seringkali menyuntikkan semangat tersendiri. Lagi pula ketajaman lini depan mereka hampir sama dengan Persebaya (37 gol berbanding 38 gol).
Persis dan Semen Padang berada di papan bawah, masing-masing peringkat 15 dan 17. Namun menghadapi tim papan bawah di pekan-pekan terakhir kompetisi sering kali lebih berbahaya daripada menghadapi tim papan atas atau tengah. Ini dikarenakan mereka akan berjuang keras untuk bisa lolos dari zona degradasi.
Masalahnya, musim ini Gelora Bung Tomo tak terlampau bersahabat. Persebaya sudah tiga kali rontok di kandang sendiri dan empat kali ditahan imbang lawan. Dari 14 pertandingan kandang, Persebaya hanya bisa meraih tujuh kali kemenangan.
Dukungan Bonek tak cukup kuat untuk melecut Green Force. Apalagi saat ini Persebaya tengah kesepian, karena berseteru dengan Green Nord setelah memutuskan menutup tribun utara sejak pertandingan melawan Persita hingga akhir musim.
Penutupan tribun tersebut sangat terasa. Kendati pertandingan melawan Persita digelar pada Sabtu malam, hanya 1.244 orang penonton yang hadir di Gelora Bung Tomo. Ini jumlah penonton tersedikit musim ini, dan bahkan sejak Persebaya tampil di Liga 1 pada 2018 (pertandingan tanpa penonton karena force majeur atau keputusan PSSI tak perlu dihitung).
Penonton kandang paling sedikit adalah saat Persebaya menghadapi Bali United pada Rabu, 24 April 2024. Saat itu Persebaya kalah 0-2 di hadapan 2.124 pendukungnya.
Memang dari rata-rata jumlah penonton, laga kandang Persebaya musim ini bukan yang terburuk (15 ribu orang). Rata-rata penonton dalam laga kandang musim 2022-23 yang paling sedikit, hanya 6.276 orang. Namun saat itu sebagian besar laga kandang memang tidak digelar di Gelora Bung Tomo dan bahkan sebagian digelar tertutup, setelah tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022.
Tidak ada yang bisa menggaransi Persebaya tidak akan semakin kesepian di kandangnya sendiri hingga akhir musim. Bukan saja hasil buruk di laga-laga tandang bisa membuat penonton semakin enggan datang ke Gelora Bung Tomo, namun tiga calon lawan Persebaya di kandang sendiri itu juga tidak cukup seksi untuk membetot minat penonton untuik datang.
Suka atau tidak, penutupan tribun utara merugikan Persebaya. Bukan saja dari segi finansial, tapi juga dari dukungan di lapangan. Panitia pelaksana belum pernah melansir data tiket yang terjual di setiap tribun. Namun kasat mata, tribun utara bisa dibilang relatif ramai dan beberapa kali lebih ramai dibandingkan tribun lain.
Mereka juga terbilang militan dalam mendukung tim selama 90 menit. Nyanyian dan teriakan penonton di tribun utara tak ubahnya bensin yang membakar semangat pemain. Tribun utara (dalam hal ini Green Nord) juga dikenal sebagai komunitas tribun yang kreatif dalam memberikan dukungan. Tifo-tifo koreo raksasa yang apik dan epik sering muncul dari mereka.
Masalahnya dalam beberapa pertandingan, nyanyian bernada kebencian dan nyala cerawat di tribun utara juga kerap merugikan Persebaya. Denda dari Komisi Disiplin PSSI pada akhirnya memangkas pendapatan klub dari tiket, dan akan merugikan kesehatan keuangan Persebaya dalam jangka panjang.
Maka sebelum musim berakhir, manajemen Persebaya dan Bonek, terutama Green Nord, harus tuntas membicarakan persoalan ini. Klub tanpa dukungan suporter jelas akan pincang. Namun sanksi yang terus-menerus yang dijatuhkan federasi karena ulah sebagian suporter sendiri juga akan membuat Persebaya bangkrut.
Ke depan, jangan biarkan Francisco Rivera, Bruno Moreira, dan pemain-pemain Persebaya lainnya merayakan gol-gol ke gawang Madura United, PSBS Biak, dan Persik Kediri dalam kesepian. [wir]






