Kediri (beritajatim.com) – Sebanyak 1.275 calon jemaah haji asal Kabupaten Kediri dijadwalkan mulai berangkat ke Tanah Suci pada 19 Mei 2026 dengan membawa misi khusus menjaga kesehatan fisik secara ekstra. Dalam prosesi pelepasan di Convention Hall Simpang Lima Gumul (SLG), Selasa (7/4/2026), sosok Mbah Marsiah (104) mencuri perhatian sebagai jemaah haji tertua di Kediri tahun ini yang berhasil berangkat dari hasil jerih payah berjualan dawet.
Ribuan jemaah tersebut terbagi ke dalam empat kelompok terbang (kloter), yakni kloter 109, 110, 111, dan 112. Sebelum resmi diberangkatkan, mereka menjalani pembinaan manasik haji massal terintegrasi yang bertujuan mematangkan pemahaman tata cara ibadah sekaligus menyiapkan ketahanan mental di lapangan.
Wakil Bupati Kediri, Dewi Mariya Ulfa atau yang akrab disapa Mbak Dewi, memberikan pesan mendalam agar para jemaah tidak meremehkan persiapan fisik. Mengingat perbedaan cuaca yang signifikan antara Indonesia dan Arab Saudi, latihan fisik sederhana menjadi kunci kelancaran ibadah.
“Jaga kesehatan, perbanyak latihan berjalan agar saat di Tanah Suci nanti para jemaah sudah terbiasa dan dapat menjalankan ibadah dengan lancar,” pesannya di hadapan para jemaah.
Mbak Dewi menekankan bahwa kesadaran akan kondisi tubuh sendiri sangat krusial selama berada di Tanah Suci. Karakteristik ibadah haji yang menguras energi dan berlangsung dalam durasi lama menuntut jemaah untuk disiplin dalam mengatur pola istirahat.
“Yang paling tahu kondisi tubuh adalah diri sendiri. Jadi harus benar-benar dijaga, apalagi ibadah haji berlangsung cukup lama,” imbuhnya.
Sesuai jadwal operasional, pemberangkatan jemaah asal Kabupaten Kediri akan dimulai pada 19 Mei 2026 untuk kloter 109, 110, dan 111. Sementara itu, kloter 112 dijadwalkan menyusul pada 20 Mei 2026 dengan dukungan transportasi dan administrasi yang telah disiapkan matang oleh pemerintah daerah.
Sebagai bentuk perhatian khusus, Pemerintah Kabupaten Kediri membekali para jemaah dengan bingkisan pangan khas daerah. Paket tersebut berisi sambal pecel, sambal tumpang instan, mi instan, hingga perlengkapan pelindung cuaca seperti payung.
“Karena rasanya di sana beda, makanya Mas Bup memberikan bekal sambal pecel untuk rasa kangen jemaah selama menunaikan ibadah haji,” tandas Mbak Dewi terkait bekal logistik tersebut.
Di tengah ribuan wajah bahagia, sosok Mbah Marsiah menjadi simbol kegigihan yang luar biasa. Warga Desa Bulu, Kecamatan Semen ini membuktikan bahwa keterbatasan usia dan ekonomi bukan penghalang untuk memenuhi rukun Islam kelima setelah puluhan tahun konsisten menyisihkan uang.
Semangat Mbah Marsiah meledak lewat ceritanya tentang masa-masa berjuang di pasar tradisional. Ia mengaku rahasia keberangkatannya adalah ketulusan dalam mengumpulkan receh demi receh dari hasil keringat sendiri.
“Dulu saya jualan jenang dan dawet, uangnya saya kumpulkan karena ingin haji,” tuturnya dengan penuh haru.
Meskipun menyadari kekuatan fisiknya sudah menurun di usia satu abad lebih, Mbah Marsiah tetap optimistis berangkat dengan pendampingan sang anak. Keberangkatannya tahun ini tidak hanya menjadi capaian pribadi, tetapi juga menjadi inspirasi bagi jemaah muda di seluruh Indonesia tentang kekuatan niat dan kesabaran. [ian]






