Ponorogo (beritajatim.com) – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi perhatian serius dalam skema pemberangkatan jemaah haji Ponorogo tahun ini. Meski situasi belum sepenuhnya kondusif, sebanyak 565 calon jemaah haji (CJH) Ponorogo dipastikan tetap berangkat sesuai jadwal pada 26 April mendatang. Pemerintah menyiapkan langkah antisipatif agar perjalanan ibadah tetap aman dan terkendali.
Ratusan jemaah haji Ponorogo tersebut terbagi dalam dua kelompok terbang (kloter), yakni sub 19 dan 20 Embarkasi Surabaya. Mereka dijadwalkan masuk asrama haji sehari sebelum keberangkatan menuju Arab Saudi. Hingga saat ini, seluruh jemaah memastikan kesiapan tanpa ada yang mengundurkan diri.
“Jemaah dijadwalkan tiba di Tanah Suci sehari setelahnya, semuanya berangkat, tidak ada yang mengundurkan diri,” kata Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Ponorogo, Marjuni, Kamis (8/4/2026).
Di tengah dinamika konflik kawasan Timur Tengah, pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah telah menyiapkan tiga skema pemberangkatan. Skema ini disusun sebagai langkah mitigasi risiko jika situasi geopolitik mengalami eskalasi. Fokus utama tetap pada keselamatan jemaah haji Ponorogo selama perjalanan.
Skenario pertama adalah tetap memberangkatkan jemaah dengan penyesuaian rute penerbangan yang dinilai paling aman. Skenario kedua membuka kemungkinan penundaan keberangkatan meskipun Arab Saudi tidak menutup pelaksanaan ibadah haji. Sedangkan skenario ketiga, pemberangkatan bisa dibatalkan jika ada pembatasan resmi dari otoritas Arab Saudi.
“Sementara kami masih pada skenario pertama. Opsi kedua dan ketiga nanti diharapkan tidak terjadi. Kalau andai terjadi, pemerintah ditargetkan bisa melobi kembali uang jemaah dari Arab Saudi,” jelasnya.
Selain kesiapan teknis perjalanan, kondisi kesehatan jemaah haji Ponorogo juga menjadi perhatian. Dari total 565 CJH, sekitar 20 persen masuk kategori risiko tinggi karena berusia di atas 65 tahun. Pemerintah telah menyiapkan pendampingan intensif dari Tenaga Kesehatan Haji (TKH) untuk memastikan seluruh jemaah tetap dalam kondisi prima. “Sebanyak 20 persen dari total jemaah asal Ponorogo yang berangkat, statusnya risiko tinggi (risti),” pungkasnya. (end/kun)






