Jember (beritajatim.com) – Banyaknya rumah kos yang berubah menjadi penginapan ‘short time’ di Kabupaten Jember, Jawa Timur, merugikan bisnis jasa hotel dan motel resmi.
Hal ini dikeluhkan Ayu Fitrananda, perwakilan bidang hubungan masyarakat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Jember, saat menghadiri rapat dengar pendapar Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati 2025 di gedung DPRD Jember, Selasa (7/4/2026).
“Sekarang sedang marak penginapan yang kemungkinan tidak berizin yang berbasis kosan, tapi orang bisa stay satu malam, dan itu sangat berimbas kepada kami. Jadi, yang seharusnya di event-event tertentu hotel bisa menaikkan harga di rate-rate yang lebih tinggi, sekarang sudah tidak bisa,” kata Ayu.
Kamar kos di rumah penginapan ini dibuka warga dan bisa disewa harian seperti layaknya hotel dan motel. Ayu meminta Pemkab Jember lebih tegas terhadap rumah penginapan yang tidak berizin ini.
Kehadiran penginapan ‘short time’ ini mengurangi dampak program pemerintah daerah di bidang pariwisata terhadap pelaku usaha hotel. Padahal jumlah anggota PHRI cukup banyak: 49 hotel, sembilan restoran, dan tiga afiliasi.
Ayu mengingatkan, ada bermacam wisatawan yang melancong ke Jember. “Ada yang stay (tinggal), ini berimbas kepada kami. Tapi yang untuk yang tidak stay, tidak berimbas kepada kami. Apalagi ada wisatawan yang low budget yang mereka hanya ya datang melihat-lihat saja. Itu tidak terimbas kepada kami,” kata Ayu.
M. Holil Asyari, Ketua Panitia Khusus I LKPJ Bupati DPRD Jember, memandang perlu ada penertiban oleh Satuan Polisi Pamong Praja. “Satpol PP mitra Komisi A. Saya akan undang sendiri nanti di Komisi A,” katanya.
Selain mempersoalkan kehadiran rumah kos yang menyaru penginapan ‘short time’, Ayu juga memandang perlu adanya lagi pertemuan rutin antara pelaku usaha jasa pariwisata yang difasilitasi pemerintah daerah. “Sudah lama sekali sepertinya Jember ini tidak mengadakan table top seperti dulu-dulunya,” kata Ayu.
Ayu juga berharap kalender kegiatan pariwisata dari Dinas Kepemudaan Olahraga Budaya dan Pariwisata Jember segera disosialisasikan.
Mengacu pada tahun-tahun sebelumnya, menurut Ayu, ada beberapa kali perubahan mendadak jadwal kegiatan pariwisata. “Kalau boleh usul, jangan sampai diubah, karena juga ada beberapa event yang akan kami lakukan. Biar tidak berbenturan,” katanya. [wir/suf]






