Malang (beritajatim.com) – Tim dosen Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya melakukan hilirisasi riset dengan menerapkan teknologi fermentasi tepat guna untuk mengolah kotoran kambing menjadi pupuk organik bernilai ekonomi tinggi di Desa Secang, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi.
Inovasi ini dipelopori oleh Yusron Sugiarto bersama tim ahli Teknik Bioproses FTP UB sebagai respons atas menumpuknya limbah ternak di lingkungan warga, termasuk di sekitar mitra lokal Istana Herbal Kopi Secang (IHKS).
Berdasarkan hasil penelitian, kotoran kambing memiliki kandungan unsur hara yang tinggi, yakni Nitrogen 1,19 persen, Fosfor 0,92 persen, dan Kalium 1,58 persen. Secara ilmiah, penggunaan pupuk ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas tanaman hingga 6,48 kilogram per petak, lebih tinggi dibandingkan pupuk dari kotoran sapi yang hanya mencapai 3,80 kilogram per petak.
Untuk mengoptimalkan proses tersebut, tim FTP UB menghibahkan mesin perajang dan penggiling serbaguna bertenaga motor bensin 7 HP dengan kapasitas produksi 100–150 kilogram per jam.
“Prinsipnya, semakin halus partikel kotoran, maka semakin luas permukaan kontak dengan mikroorganisme pengurai. Hal ini membuat proses fermentasi berlangsung lebih cepat dan menghasilkan tekstur pupuk yang homogen,” ujar Dr. Yusron.
Selain itu, tim juga membangun rumah produksi permanen berbahan bambu lokal dan plastik UV. Fasilitas ini berfungsi menjaga suhu dan kelembaban selama proses fermentasi agar tetap stabil, sekaligus melindungi bahan baku dari cuaca ekstrem.
Standarisasi proses juga diperkuat melalui penyusunan SOP oleh Ria Dewi Andriani yang mencakup enam tahapan, mulai dari persiapan bahan, pencampuran, fermentasi anaerob selama 14–21 hari pada suhu 40–60 derajat Celsius, hingga pengemasan produk.

Pendekatan edukatif kepada masyarakat dilakukan oleh Taufiq Ismail, yang terbukti efektif meningkatkan pemahaman peserta UMKM pertanian. Nilai evaluasi peserta meningkat dari rata-rata 75 persen pada pre-test menjadi 100 persen saat post-test.
Dari sisi ekonomi, teknologi ini membuka peluang usaha baru bagi warga. Berdasarkan perhitungan tim, harga pokok produksi (HPP) pupuk organik ini hanya sekitar Rp3.580 per kilogram, termasuk biaya bahan tambahan seperti EM4, dolomit, molase, serta perlengkapan produksi.
Dengan harga jual pasar mencapai Rp5.000 per kemasan, petani berpotensi memperoleh margin keuntungan sekitar 30 persen. Jika mampu menjual minimal lima kemasan per hari, tambahan laba bersih yang diperoleh bisa mencapai Rp7.100 per hari, dengan titik impas pada penjualan 106 kemasan per bulan.
“Warga kini sadar bahwa mereka memiliki bahan baku bisnis di halaman rumah sendiri. Kami hanya hadir untuk memberikan sentuhan teknologi dan pengetahuan agar nilai ekonomi tersebut bisa terwujud secara nyata,” pungkas Dr. Yusron. [dan/beq]






