Ponorogo (beritajatim.com) – Sebanyak 20 persen dari total 565 calon jemaah haji (CJH) asal Kabupaten Ponorogo yang akan berangkat pada musim haji 2026 masuk dalam kategori risiko tinggi (risti). Kondisi ini menjadi perhatian serius dalam persiapan keberangkatan, khususnya terkait kesehatan dan kesiapan fisik jemaah.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Ponorogo, Marjuni, menyebut jumlah jemaah risti mencapai 113 orang dari total keseluruhan CJH tahun ini.
“Resiko tinggi (risti) ada 20 persen dari total jemaah yang berangkat pada tahun ini,” ujarnya, Selasa (7/4/2026).
Kategori risti umumnya meliputi jemaah lanjut usia maupun yang memiliki riwayat penyakit tertentu. Berdasarkan data, jemaah tertua tahun ini berusia 91 tahun, yakni Robiah, warga Desa Prajegan, Kecamatan Sukorejo. Sementara jemaah termuda berusia 16 tahun berasal dari Desa Bajang, Kecamatan Mlarak.
“Yang muda ini daftar sejak usianya 2 tahun. Yang bersangkutan berangkat sama kakaknya,” katanya.
Seluruh CJH Ponorogo dijadwalkan berangkat dalam gelombang pertama melalui Asrama Haji Sukolilo. Mereka terbagi dalam dua kelompok terbang (kloter), yakni kloter 19 dan kloter 20.
Kloter 19 diisi penuh oleh jemaah asal Ponorogo sebanyak 380 orang ditambah petugas haji. Sementara sisanya tergabung dalam kloter 20 bersama jemaah dari Magetan dan Sidoarjo.
Untuk jadwal keberangkatan, kloter Sub 19 akan diberangkatkan pada 26 April pukul 01.00 WIB dini hari dan dijadwalkan tiba di asrama haji pukul 06.00 WIB. Sedangkan kloter Sub 20 berangkat pada hari yang sama pukul 07.30 WIB dan diperkirakan tiba pukul 12.00 WIB.
“Terkait waktu yang panjang ini, maka kalau kita berangkatkan bersama-sama mestinya jemaah haji kurang berkenan. Lebih baik kloter 20 itu istirahat dulu di rumah,” pungkas Marjuni.
Dengan porsi jemaah risiko tinggi yang cukup besar, kesiapan layanan kesehatan, pendampingan, serta manajemen perjalanan menjadi faktor penting untuk memastikan seluruh rangkaian ibadah haji berjalan aman dan lancar. [end/beq]






