Surabaya (beritajatim.com) – Asosiasi MBG Indonesia menggelar halal bihalal dan talkshow strategis di Hotel Santika Premiere Gubeng, Surabaya, Senin (6/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat sinergi dalam menyukseskan program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Kegiatan hari ini adalah momen untuk mengumpulkan energi positif bagi kita semua. Dengan bersatunya para mitra, kita ingin memastikan langkah ke depan semakin sinkron demi menyukseskan program MBG yang berkelanjutan,” ujar Ketua Panitia, Hj Indah.
Acara ini dihadiri koordinator wilayah dari 38 kabupaten/kota serta sekitar 150 mitra pemilik dapur MBG. Kehadiran para peserta menunjukkan komitmen bersama dalam mengawal program nasional tersebut.
“Kehadiran seluruh mitra ini menjadi bukti bahwa kita siap bergerak bersama dalam satu visi yang sama,” katanya.
Ketua Asosiasi MBG Indonesia, M Turino Junaedy, menyampaikan bahwa asosiasi memiliki peran strategis sebagai penghubung antar mitra dan pemangku kepentingan. Program MBG dinilai memiliki dampak luas terhadap pembangunan sumber daya manusia dan ekonomi.
“Kami menargetkan Asosiasi MBG mampu menyumbang 1 persen dari target 8 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui pengelolaan dapur yang profesional,” tegas Junaedy.
Dia menambahkan, keberhasilan program MBG sangat bergantung pada kualitas pengelolaan di tingkat dapur. Kolaborasi antar pihak dinilai menjadi kunci agar manfaat program dapat dirasakan secara luas.
“Kolaborasi antara yayasan dan mitra harus bermuara pada satu tujuan, yaitu penyediaan menu terbaik bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional, Letjen TNI (Purn) Dadang Hendrayudha, memberikan arahan secara daring. Dia menegaskan pentingnya menjaga kualitas dalam pelaksanaan program MBG.
“Saya tegaskan, jangan sekali-kali ada praktik pengurangan anggaran bahan baku. Kualitas menu harus sesuai standar yang telah ditetapkan,” katanya.
Dia juga memastikan pengawasan terhadap program akan dilakukan secara ketat dan berkala. Hal ini untuk menjamin setiap anggaran yang digunakan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
“Kita sedang bicara soal gizi penerima manfaat, sehingga kualitas tidak boleh dikompromikan,” ujarnya.
Dalam sesi talkshow, para narasumber membahas aspek teknis pelaksanaan program MBG. Fokus utama meliputi standarisasi operasional, validitas data, serta peran asosiasi dalam penguatan sistem.
“Diskusi ini diharapkan menjadi panduan teknis agar operasional dapur MBG berjalan profesional, akuntabel, dan transparan,” pungkas Kusmayanti. [asg/but]






