Surabaya (beritajatim.com)– Eceng gondok selama ini sering dianggap sebagai gulma air yang mengganggu karena pertumbuhannya sangat cepat dan menutupi permukaan sungai atau danau.
Tanaman ini dapat merusak ekosistem perairan, karena menghambat cahaya matahari masuk ke air sehingga mengganggu kehidupan ikan. Selain itu, eceng gondok juga bisa menyumbat saluran irigasi dan menghambat aktivitas nelayan.
Namun, di balik dampak negatifnya, eceng gondok ternyata memiliki banyak manfaat. Tanaman ini bisa disulap menjadi kerajinan tangan, seperti tas, hiasan, dan furnitur.
Selain itu, eceng gondok juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan pupuk alami, sehingga memiliki nilai guna yang cukup luas.
Dengan kreativitas, tanaman ini tidak lagi dianggap sampah, melainkan diolah menjadi produk bernilai jual tinggi. Hal ini membuka peluang usaha baru dan lapangan pekerjaan yang dapat membantu meningkatkan ekonomi masyarakat di berbagai daerah.
Proses pengolahannya pun cukup mudah. Batang eceng gondok yang sudah tua dipotong dan dibersihkan, kemudian dijemur di bawah terik matahari selama 7-10 hari hingga kering. Namun, saat musim hujan, proses pengeringan bisa memakan waktu lebih lama, yaitu sekitar 15-20 hari. Setelah kering, batang eceng gondok dipipihkan agar lentur dan mudah dianyam.
Sebagian perajin juga mulai menggunakan mesin pengepres untuk mempercepat proses produksi. Dengan bantuan mesin, hasilnya menjadi lebih rapi dan prosesnya lebih efisien dibandingkan cara manual.
Produk yang dihasilkan dari eceng gondok pun beragam dan mengikuti tren, mulai dari tas, topi, sandal, hingga furnitur seperti kursi.
Selain itu, ada juga produk rumah tangga seperti tempat tisu, alas piring, dan berbagai hiasan unik yang memiliki nilai jual tinggi.
Tidak hanya sebagai kerajinan, eceng gondok juga mulai dikembangkan menjadi produk ramah lingkungan, seperti briket bahan bakar dan kertas biodegradable. Hal ini menunjukkan bahwa tanaman ini punya banyak manfaat, mulai dari kebutuhan sehari-hari hingga sebagai bahan yang lebih ramah lingkungan.
Di lansir dari Empowerment Society, hasil kerajinan dari eceng gondok pun kini tidak hanya dijual di pasar tradisional, tetapi juga dipasarkan melalui platform digital seperti media sosial dan marketplace, sehingga bisa dengan mudah dijangkau pembeli. [Wakhdah Alisa Berliana]






