Ngawi (beritajatim.com)– Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn.) Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan stok beras nasional dalam kondisi melimpah dengan capaian tertinggi sepanjang sejarah.
Hal itu disampaikan saat meninjau Gudang Bulog di Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (4/4/2026)
Di lokasi tersebut, Rizal menyebut kondisi gudang terisi penuh, mencerminkan produksi pangan nasional yang meningkat signifikan. “Gudang Bulog yang ada di Geneng ini bisa kita lihat penuh. Ini menunjukkan produksi pangan Indonesia luar biasa,” ujarnya.
Per 3 April 2026, stok beras yang dikuasai Bulog mencapai 4,4 juta ton. Angka ini melampaui capaian tertinggi sebelumnya pada 2025 sebesar 4,2 juta ton. “Ini adalah stok tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka,” kata Rizal.
Selain memastikan adanya stok, Rizal juga memastikan beras dalam gudang tetap terjaga kualitasnya. Baik yang sudah setahun dalam gudang, maupun yang baru sekitar dua bulan.
Menurutnya, jumlah tersebut masih berpotensi bertambah mengingat saat ini baru memasuki awal April. Bulog masih memiliki waktu sekitar delapan bulan ke depan untuk melakukan penyerapan gabah dan beras dari petani.
“Potensinya akan lebih besar lagi. Bulog akan terus menyerap gabah dan beras petani, sehingga stok akan semakin meningkat,” jelasnya.
Rizal juga mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap ketersediaan pangan. Ia memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman dan mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri.
“Masyarakat tidak perlu panik. Stok pangan kita berlimpah dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan nasional, baik untuk kondisi kontinjensi maupun kebutuhan sehari-hari,” tegasnya.
Bulog memperkirakan stok beras hingga akhir 2026 dapat mencapai 6 juta ton. Jumlah tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun, meskipun ada potensi gangguan iklim seperti El Nino di pertengahan tahun.
Ia menambahkan, meningkatnya produksi pertanian juga didorong oleh sejumlah faktor, seperti penurunan harga pupuk yang membuat petani lebih bergairah, serta kebijakan pemerintah terkait harga pembelian gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram.
Selain itu, dukungan sarana dan prasarana pertanian dari Kementerian Pertanian turut berkontribusi terhadap peningkatan produksi.
“Ini menjadi momentum kebanggaan bangsa Indonesia karena kita sudah mandiri beras dan jagung. Ke depan, harapannya komoditas lain seperti kedelai juga bisa menyusul,” pungkasnya. [fiq/ted]






