Ponorogo (beritajatim.com) – Pelaku UMKM di Kabupaten Ponorogo kini berada dalam posisi dilematis di tengah lonjakan harga plastik yang terus terjadi. Di satu sisi, mereka harus menekan biaya produksi, namun di sisi lain kenaikan harga jual berisiko membuat pelanggan beralih. Kondisi ini memunculkan beragam reaksi, mulai dari bertahan dengan margin tipis hingga menaikkan harga secara bertahap.
Dari sisi distributor, kenaikan harga plastik disebut terjadi hampir di semua jenis produk sejak awal Maret dan terus berlanjut hingga pasca Lebaran. Dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku usaha, tetapi juga memengaruhi pola belanja mereka.
“Ya seperti plastik kresek, sebelumnya per kilogramnya Rp 24 ribu, sekarang sudah Rp 32 ribu per kilogram. Akhirnya yang biasa membeli 1 kilogram jadi setengah kilogram saja,” kata pemilik Toko Plastik Malindo, Murdianto, Jumat (3/4/2026).
Lonjakan harga tersebut membuat daya beli pelaku usaha ikut melemah. Tidak sedikit yang mengurangi pembelian bahkan menunda belanja karena harga yang belum stabil.
“Ya mau gimana lagi, kalau kita tetap tidak menaikkan, lha dari sana juga naik,” ungkapnya.
Kondisi ini kemudian memaksa pelaku UMKM mengambil langkah berbeda-beda. Sebagian memilih menaikkan harga demi menjaga keberlangsungan usaha. Dengan potensi harus menghadapi risiko penurunan pembeli.
“Ya harganya kita naikin 20 persen. Untuk menu teh ori yang sebelumnya Rp2.500 kini dinaikkan harganya diangka Rp3.000 ribu per pcs,” kata Hilda Ayu Rahmawati, pelaku usaha minuman teh.
Hal serupa dilakukan Enny Aprillia yang menjual es teler. Dia mengaku kesulitan menentukan harga jual di tengah kenaikan biaya kemasan yang hampir merata. Sehingga, mau tidak mau dirinya harus menaikkan harga jual es telernya.
“Jadi pusing mau kasih harga, karena semua plastik naik. Untuk es teler yang semula Rp 5.000, kini dinaikan menjadi Rp6.000,” katanya.
Namun, tidak semua pelaku UMKM langsung menaikkan harga. Sebagian masih memilih bertahan dengan strategi menjaga harga jual. Strategi ini konsekuensinya keuntungan semakin menipis.
“Mau menaikkan tentu yakut ditinggalkan. Tapi harga cucur saya memang lebih mahal dibanding lain. Jadi masih ada laba,” terang Maya Nikasari, pelaku usaha Cucur Ceria.
Pilihan bertahan juga diambil Atin, pemilik usaha kuliner Dapur Loman di Kelurahan Tonatan. Dia mengaku tetap mempertahankan harga jual di tengah kenaikan biaya kemasan yang cukup tajam.
“Masih harga Rp 10 ribu bonus es teh. Padahal gelas cup itu biasanya Rp8 ribu sekarang Rp14 ribu, lalu box nasi juga naik sebelumnya Rp25 ribu sekarang Rp32 ribu,” jelasnya.
Meski demikian, kondisi tersebut membuatnya berada dalam tekanan karena biaya terus naik sementara harga jual belum berubah. Dirinya pun mulai menyiapkan langkah antisipasi jika kondisi belum membaik, termasuk mengurangi layanan tambahan agar tetap bisa bertahan.
“Ya misal tidak free es teh. Atau misal BBM naik ya tidak free ongkir. Tapi sementara masih sama walaupun labanya sangat sedikit,” pungkasnya.
Diketahui, lonjakan harga plastik ini dipicu konflik di Timur Tengah yang berdampak pada pasokan bahan baku petrokimia. Sejak awal Ramadhan, harga sudah mulai naik, namun dalam beberapa pekan terakhir kenaikannya semakin tajam, terutama untuk jenis polypropylene (PP) yang hampir menyentuh dua kali lipat. Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM di Ponorogo harus beradaptasi cepat. Di tengah ketidakpastian, sebagian besar memilih langkah moderat, yakni bertahan sambil menunggu stabilisasi harga, sembari menyiapkan opsi penyesuaian jika tekanan biaya terus berlanjut. [end/aje]






