Gresik (beritajatim.com)- Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, PT Petrokimia Gresik mengambil langkah strategis untuk mengamankan pasokan sulfur—komoditas krusial bagi industri pupuk dan kimia nasional. Langkah ini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas produksi pupuk sekaligus mendukung ketahanan pangan Indonesia.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, mengungkapkan bahwa ketergantungan global terhadap kawasan Teluk Persia sebagai pemasok sulfur menjadi tantangan tersendiri. Sekitar 33 persen perdagangan sulfur dunia atau setara 20 juta ton per tahun berasal dari wilayah tersebut. Sedangkan Indonesia masih mengimpor lebih dari 75 persen kebutuhannya dari Timur Tengah.
“Ketegangan geopolitik dan potensi gangguan jalur logistik global dapat berdampak langsung pada harga serta ketersediaan sulfur dunia,” ujar Daconi dalam forum internasional Argus Fertilizer Asia Conference 2026 di Bali, Rabu (1/4/2026).
Di sisi lain, kebutuhan nasional terhadap asam sulfat terus meningkat pesat hingga mencapai sekitar 19 juta ton per tahun. Permintaan ini didorong oleh sektor industri pupuk serta hilirisasi mineral, khususnya nikel yang tengah berkembang seiring tren kendaraan listrik global.
Sebagai salah satu pemain utama di industri agroindustri, Petrokimia Gresik memiliki kapasitas produksi asam sulfat sebesar 1,8 juta ton per tahun. Fasilitas ini terintegrasi langsung dengan proses produksi pupuk dan berbagai produk kimia, sehingga memperkuat posisi perusahaan dalam rantai pasok nasional.
Menghadapi dinamika global, perusahaan memperkuat strategi pengamanan pasokan melalui diversifikasi sumber sulfur, penguatan kontrak jangka panjang, serta peningkatan infrastruktur penyimpanan dan distribusi. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas industri pupuk, mengingat sulfur dan asam sulfat merupakan bahan baku utama dalam produksi pupuk fosfat dan NPK.
Tak hanya itu, lonjakan kebutuhan sulfur juga dipicu oleh ekspansi industri baterai kendaraan listrik berbasis nikel, yang membutuhkan asam sulfat dalam jumlah besar. Fungsinya untuk proses produksi seperti high-pressure acid leaching (HPAL). Regulasi lingkungan yang semakin ketat juga turut mendorong penggunaan sulfur dalam berbagai proses industri.
Daconi menegaskan bahwa fokus utama perusahaan saat ini adalah memastikan keberlanjutan produksi pupuk nasional di tengah ketidakpastian global.
“Kami terus memperkuat rantai pasok dan kapasitas produksi domestik agar kebutuhan pupuk nasional tetap terpenuhi. Ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam mendukung swasembada pangan Indonesia,” tutupnya. [dny/but]






