Banyuwangi (beritajatim.com) – Antrean panjang di Pelabuhan Ketapang kembali menuai keluhan dari sopir logistik. Kondisi yang terus berulang ini dinilai merugikan banyak pihak, mulai dari pengemudi hingga masyarakat luas akibat terganggunya distribusi barang.
Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) menilai anomali antrean di lintasan Ketapang–Gilimanuk bukan sekadar persoalan teknis, tetapi telah berdampak sistemik terhadap pergerakan ekonomi.
Ketua ASLI, Slamet Barokah, mengatakan kemacetan panjang membuat sopir harus menanggung kerugian waktu, tenaga, hingga biaya operasional yang membengkak.
“Kami masyarakat sudah banyak mengkorbankan waktu, tenaga dan bahkan biaya dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, antrean yang mengular memaksa sopir tetap menyalakan mesin kendaraan dalam waktu lama, baik saat menunggu di jalur antrean maupun ketika hendak naik ke kapal. Kondisi tersebut membuat konsumsi bahan bakar menjadi tidak efisien.
Dampak lanjutan juga dirasakan oleh masyarakat. Distribusi logistik yang terhambat berpotensi menyebabkan kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama jika barang mengalami keterlambatan atau penurunan kualitas selama perjalanan.
Selain itu, keterbatasan dermaga membuat kapal harus menunggu di laut selama 2 hingga 3 jam sebelum bersandar. Situasi ini dinilai berisiko dan dapat memicu persoalan baru di perairan.
“Kami khawatir dengan banyaknya kapal mengapung juga dapat berpotensi menimbulkan terjadinya masalah baru karena accident di laut. Ini semua pastinya dapat menghambat kegiatan ekonomi dan kembali dapat merugikan masyarakat,” jelasnya.
ASLI menilai persoalan antrean di Pelabuhan Ketapang bukan hal baru karena terjadi hampir setiap tahun, terutama saat arus kendaraan meningkat. Oleh karena itu, pemerintah diminta segera menghadirkan solusi konkret.
Salah satu langkah yang diusulkan adalah penambahan dermaga guna mengurai kepadatan serta mempercepat proses sandar kapal. Hal ini juga dinilai penting untuk mengantisipasi lonjakan volume kendaraan di masa mendatang.
Terlebih, dengan rencana tersambungnya jalur tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi), permintaan penyeberangan diprediksi akan meningkat signifikan jika tidak diantisipasi sejak dini.
“Saya meminta pemerintah harus segera mengambil tindakan nyata dalam memberi solusi. Mungkin penambahan dermaga bisa dilakukan agar kemacetan tidak sampai terulang sehingga menyebabkan kerugian bagi masyarakat,” tandasnya. [alr/beq]






