Ponorogo (beritajatim.com) – Rumah Sakit Umum (RSU) Muslimat Ponorogo menandai babak baru penguatan layanan kesehatan di Bumi Reog. Yakni dengan meresmikan gedung baru setinggi 7 lantai, yang diberi nama Gedung Gus Dur. Peresmian ini sekaligus menjadi momentum peringatan perjalanan panjang lembaga tersebut dalam memberikan pelayanan kesehatan berbasis nilai keislaman dan kemanusiaan.
Ketua PP Muslimat NU Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan, penamaan Gedung Gus Dur bukan tanpa alasan. Dia mengingat bahwa awal berdirinya RSU Muslimat Ponorogo dahulu diresmikan oleh Abdurrahman Wahid atau Gus Dur saat menjabat Ketua PBNU.
“Hari ini berulang tahun ke-40 sekaligus meresmikan gedung baru 7 lantai yang dinamakan Gedung Gus Dur. Karena dulu yang meresmikan adalah Gus Dur. Tentu saja rumah sakit ini menanamkan nilai-nilai yang diajarkan oleh Gus Dur, kebersamaan, nondiskriminasi,” kata Arifatul.
Peresmian gedung tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh penting Nahdlatul Ulama, di antaranya Khofifah Indar Parawansa, Rois Aam PBNU Miftachul Akhyar, serta Sekjen PBNU yang juga Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Kehadiran para tokoh ini menjadi simbol kuatnya dukungan terhadap pengembangan layanan kesehatan berbasis organisasi keagamaan.
Arifatul menegaskan, RSU Muslimat Ponorogo diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas kesehatan semata, melainkan juga pusat pelayanan yang menjunjung tinggi nilai empati dan keadilan sosial.
“Saya berharap RSU Muslimat bisa menjadi rumah sakit yang ramah perempuan dan anak, yang tidak hanya memberikan layanan medis tapi juga menjunjung tinggi perlindungan dan empati,” tegasnya.
Dia juga mengajak masyarakat Ponorogo untuk turut mendukung keberadaan rumah sakit tersebut agar benar-benar menjadi solusi layanan kesehatan. Menurutnya, pelayanan kesehatan yang diberikan tenaga medis di RSU Muslimat NU merupakan bagian dari amal jariyah.
“Mohon support dan doanya masyarakat, khususnya di Ponorogo, mudah-mudahan RSU Muslimat ini benar-benar menjadi solusi dalam memberikan layanan kesehatan,” katanya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Umum Dewan Pembina PP Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa, menyebut pembangunan gedung baru ini sebagai wujud nyata kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
“Ikhtiar ini membangun kolaborasi, insyaallah bisa. Lalu bagaimana kita merawatnya, jadikan ini center of excellence untuk layanan kesehatan, terutama ibu dan anak di Ponorogo,” kata Khofifah.
Dia menambahkan, Ponorogo memiliki potensi besar dalam pengembangan layanan kesehatan, khususnya di bidang infertilitas. Menurutnya, daerah ini telah dikenal sebagai salah satu episentrum layanan bagi pasangan yang mengalami kesulitan mendapatkan keturunan.
“Ponorogo terkenal layanan infertilitas. Ini bisa menjadi episentrum bagaimana layanan itu terus dikembangkan, setelah itu Jombang,” ujarnya.
Khofifah juga menekankan pentingnya menjadikan layanan kesehatan sebagai bagian dari dakwah. Menurutnya, Nahdlatul Ulama memiliki kekuatan besar dalam dakwah bil lisan, namun perlu diperkuat melalui dakwah bil hal dan dakwah bil mal.
“Melalui layanan kesehatan ini, maksimalkan dakwah bil hal. Dakwah bil lisan sudah luar biasa dimiliki NU, tapi penguatan dakwah bil hal harus dimasifkan, begitu juga dakwah bil mal,” tegasnya.
Dengan mengusung nama besar Gus Dur yang dikenal sebagai tokoh pluralisme dan kemanusiaan, Khofifah berharap RSU Muslimat NU Ponorogo mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
“Dengan nama besar KH Abdurrahman Wahid, beliau pahlawan nasional, semangatnya adalah nasionalisme dan pelayanan terbaik untuk masyarakat. Semoga Muslimat NU tetap kompak, solid, dan terus memberi manfaat besar,” pungkasnya. [end/aje]






