Malang (beritajatim.com) – Dua spesies anggrek baru telah diidentifikasi sebagai Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS). Dua spesies baru ini ditemukan di lereng selatan Gunung Semeru.
Penemuan ini bermula dari petugas yang melaksanakan patroli kawasan, sekaligus melakukan pengidentifikasian terhadap biodiversitas. Penemuan dua spesies anggrek tersebut terjadi pada awal Januari 2026 lalu. Ini adalah penemuan baru karena sebelumnya belum pernah terdata.
“Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis sama-sama ditemukan pada awal Januari 2026 di lereng selatan Gunung Semeru. Keduanya adalah catatan atau temuan baru di TNBTS yang mana selama ini belum pernah terdata,” ujar Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar TNBTS Toni Artaka di Kota Malang, Sabtu (28/3/2026).
BB TNBTS menyebut, dua spesies anggrek tersebut memiliki ciri khas yang berbeda. Untuk spesies Gastrodia selabintanensis tercatat pada bagian perbungaan memiliki panjang antara 15 hingga 25 sentimeter dengan 2 hingga 4 bunga atau kuntum.
Kelopak bunga spesies itu memiliki warna cokelat kehijauan dengan tekstur kasar serta berkutil. Ukuran mahkota bunga Gastrodia selabintanensis memiliki panjang 4 sentimeter dan lebar 4 sentimeter, berwarna putih semu serta kuning.
Sedangkan spesies Gastrodia biruensis, bagian perbungaannya memiliki panjang 18 hingga 32 sentimeter dan bunganya berjumlah 3 sampai 5 kuntum. Bagian kelopak spesies itu berwarna cokelat kekuningan dan bertekstur halus. Ukuran mahkota bunga Gastrodia biruensis memiliki panjang 4–6 sentimeter dan lebar 4–5 sentimeter dengan warna putih serta oranye.
Dua spesies tanaman anggrek ini ditemukan pada habitat yang relatif sama, yaitu teduh, berhumus tebal, dan cukup lembap pada elevasi 1.000 sampai 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Temuan baru ini menambah daftar kekayaan flora di kawasan TNBTS menjadi 309 spesies anggrek.
“Kedua jenis ini termasuk tumbuhan mycoheterotrophic yang mana pertumbuhannya sangat bergantung pada habitat dan sulit mengembangkan pembiakan di luar habitat alaminya. Upaya lainnya, pemetaan sebaran populasinya dengan cara identifikasi pada lokasi lain pada musim berbunga,” ujar Toni. (luc/kun)






