Gresik (beritajatim.com) – Pulau Bawean di Kabupaten Gresik kembali menunjukkan pesonanya. Di tengah meningkatnya minat wisata alam. Bawean menawarkan wisata Konservasi Mangrove Hijau Daun berlokasi di Dusun Daun Laut, Desa Daun, Kecamatan Sangkapura. Destinasi wisata baru ini ramai diserbu wisatawan terutama pasca libur Idul Fitri.
Denga mengkedepankan berbasis masyarakat, kawasan ini tak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pengalaman edukasi yang kuat tentang pelestarian lingkungan.
Sedikitnya ada 24 jenis mangrove tumbuh dan dirawat di kawasan ini, lengkap dengan keanekaragaman hayati yang menjadikannya sebagai laboratorium alam terbuka.
Ketua Kelompok Mangrove Hijau Daun, Subhan, mengungkapkan antusiasme wisatawan melonjak drastis selama momen libur Lebaran.
“Selama tiga hari setelah Lebaran hingga hari ketujuh, sudah ada sekitar 1.800 pengunjung,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).
Masih menurut Subhan, pengunjung yang datang dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua. Menariknya, sebelum Lebaran pun kawasan ini sudah ramai dikunjungi, terutama oleh para santri yang pulang ke Bawean.
“Tak sekadar berjalan-jalan, wisatawan bisa menikmati beragam fasilitas yang menunjang pengalaman edukatif, seperti pondok edukasi, menara pandang setinggi 17 meter, jogging track di tengah hutan mangrove, dan
perahu kano menyusuri kawasan,” paparnya.
Ia menambahkan, dari sekian fasilitas yang disediakan. Menara tiga lantai menjadi spot favorit karena menyuguhkan panorama hamparan mangrove seluas 70 hektare dari ketinggian.
“Tiket masuk di tempat kami murah meriah ramah di kantong. Dewasa dibadrol Rp 5.000 dan anak-anak Rp 2.000. Tersedia pula paket rombongan dan edukasi, termasuk materi tentang ekosistem mangrove hingga pengolahan hasil mangrove,” imbuhnya.
Selain menyediakan wisata alam, Mangrove Hijau Daun juga menyediakan
kuliner khas. Mulai dari sajian nasi gulung, seafood, hingga olahan mangrove.
Selain itu, wisatawan juga bisa membeli berbagai souvenir hasil UMKM lokal, mulai dari baju, sajadah, hingga kerajinan tangan di area Pondok Patekang.
Yang membuat Mangrove Hijau Daun berbeda adalah pengelolaannya yang sepenuhnya dilakukan masyarakat setempat. Tak hanya konservasi, mereka juga mengembangkan budidaya udang dan kepiting, peternakan serta bank sampah.
Salah satu pengunjung, Wilfatin Najihah (27) mengaku terkesan dengan konsep wisata ini. “Ini wisata satu-satunya di Pulau Bawean yang kaya edukasi dan konservasi. Jadi serasa bersahabat dengan alam,” urainya.
Mangrove Hijau Daun bukan sekadar tempat wisata, tapi simbol bagaimana alam dan masyarakat bisa tumbuh bersama. Wisata ini unik, sekaligus
penuh nilai edukasi layak masuk daftar kunjungan berikutnya. [dny/ian]






