Banyuwangi (beritajatim.com) – Tradisi Lebaran Kopat di Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, kembali digelar meriah pada H+7 Idul Fitri atau 7 Syawal. Tradisi tahunan ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus ajang mempererat silaturahmi warga setelah menjalani Ramadan.
Sejak siang hari, warga tampak sibuk menyiapkan ketupat yang akan dibagikan kepada keluarga, tetangga, hingga kerabat yang datang berkunjung. Suasana kebersamaan terasa kental, dengan banyak keluarga memilih makan bersama di teras rumah.
Perayaan Lebaran Kopat di Boyolangu juga menjadi pembuka rangkaian tradisi adat setempat. Acara inti dimulai setelah salat Magrib, ketika warga menyajikan hidangan ketupat lengkap dengan sayur dan lauk khas untuk disantap bersama keluarga besar.
Momen sakral terasa saat doa bersama dipanjatkan. Warga serentak menundukkan kepala, memohon keberkahan dan mengungkapkan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan.
Usai doa, suasana kembali hangat. Warga menikmati hidangan ketupat sambil bercengkerama, menjadikan tradisi ini tidak sekadar perayaan kuliner, tetapi juga ruang mempererat hubungan sosial yang jarang terjalin di hari biasa.
Selain memperkuat nilai budaya, Lebaran Kopat juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Sejumlah pelaku UMKM memanfaatkan momen ini dengan membuka lapak di sekitar lokasi acara.
Ramainya pengunjung dari berbagai wilayah di Banyuwangi membuat penjualan meningkat, sehingga tradisi ini turut menjadi penggerak ekonomi lokal.
Ketua Panitia, Risyal Alfani, mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran acara yang menjadi bagian dari rangkaian Puter Kayun tersebut.
“Bersyukur bisa berjumpa kembali di Boyolangu Traditional Culture. Kami sangat bangga dengan masyarakat Kelurahan Boyolangu yang hingga saat ini masih peduli akan pelestarian budaya lokal,” jelasnya.
Melalui tradisi Lebaran Kopat ini, masyarakat Boyolangu menunjukkan bahwa kearifan lokal, nilai religius, dan kebersamaan dapat terus hidup dan berkembang di tengah modernisasi. [alr/beq]






