Blitar (beritajatim.com) – Air mata Triyulianti nyaris tak pernah kering setiap kali mengingat empat anaknya yang masih kecil di rumah. Desakan ekonomi memaksanya menyingkirkan rasa ragu dan memacu sepeda motor di tengah teriknya aspal Bumi Bung Karno sebagai pengemudi ojek online di Blitar.
“Setiap hari saya harus meninggalkan anak saya yang baru berumur tiga bulan,” bisiknya lirih dari balik helm hijaunya. Suaranya bergetar, menyiratkan beban berat yang harus ia pikul demi dapur tetap mengepul.
Triyulianti bukan satu-satunya. Di sudut jalan lain, Novi, seorang ibu tunggal, menggantungkan hidup dari kemudi taksi. Sejak subuh hingga larut malam, ia menyusuri jalanan kota demi masa depan anak semata wayangnya. “Apa pun akan saya lakukan untuk anak saya,” tegas Novi dengan tatapan mengeras.
Dua sosok ini menjadi potret nyata jutaan perempuan Indonesia yang berperan sebagai tulang punggung keluarga sekaligus pengatur keuangan rumah tangga. Mereka bekerja bukan sekadar bertahan hidup, melainkan menjaga harapan di tengah keterbatasan ekonomi.
Memahami kondisi tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menghadirkan program PNM Mekaar (Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera) sebagai solusi pemberdayaan perempuan prasejahtera melalui akses permodalan tanpa agunan dan pendampingan usaha.
Program PNM Mekaar mengusung sistem tanggung renteng, di mana para nasabah dibentuk dalam kelompok kecil minimal 10 orang. Skema ini menggabungkan kekuatan modal finansial dan sosial, sehingga antaranggota saling membantu ketika salah satu mengalami kesulitan.
“Selama 26 tahun, PNM diberikan mandat oleh negara untuk menciptakan dampak sosial dan ekonomi kepada masyarakat Indonesia, khususnya prasejahtera,” ujar Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi dalam keterangannya, Selasa (24/3/2026).
Hingga Februari 2026, PNM telah melayani 22,9 juta nasabah perempuan ultra mikro yang tersebar di 60.250 desa di seluruh Indonesia. Capaian ini menjadikan PNM sebagai salah satu lembaga pemberdayaan perempuan terbesar di dunia.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pendampingan berkelanjutan yang diberikan kepada nasabah. Mereka mendapatkan pelatihan literasi keuangan, manajemen usaha, hingga keterampilan wirausaha secara rutin setiap minggu.
“Stronger the women, stronger the nation. Perempuan adalah motor penggerak utama kemajuan ekonomi. Saat ini, 73 persen pembiayaan kami berbasis syariah, memastikan para ibu bisa berusaha dengan lebih tenang dan terarah,” ujar Razaq Manan Ahmad dalam sebuah forum internasional.
Bagi perempuan seperti Triyulianti dan Novi, akses permodalan dan pendampingan ini bukan sekadar bantuan ekonomi. Ini adalah jalan menuju kemandirian, menjaga martabat, sekaligus memastikan masa depan anak-anak mereka tetap memiliki harapan. [owi/beq]






