IDULFITRI, sebagai peristiwa keagamaan, menandai kembalinya manusia pada fitrah. Kembali pada kesucian diri setelah menjalani disiplin spiritual Ramadan.
Sementara itu, Lebaran, dalam perspektif kultural di Indonesia, menjelma menjadi ruang sosial tempat nilai-nilai itu dihidupkan melalui ritual perjumpaan, silaturahmi, dan kebersamaan yang nyata.
Sebagai peristiwa kultural, Lebaran di Indonesia selalu ditandai oleh ritual atau tradisi yang sangat khas, seperti mudik, anjangsana silaturahmi, hingga tetirah dalam tradisi Jawa. Semua praktik itu pada dasarnya adalah bentuk komunikasi.
Namun, komunikasi bukan sekadar pertukaran pesan, melainkan juga perjumpaan yang utuh antara manusia dan manusia. Dalam perspektif ilmu komunikasi, itulah komunikasi interpersonal dalam bentuk paling lengkap. Dilakukan secara langsung atau tatap muka, kontekstual, penuh isyarat nonverbal, dan sarat makna emosional.
Namun, kini makna dan tindakan komunikasi itu mengalami pergeseran. Tidak hilang, tetapi berubah bentuk. Bahkan, dalam perubahan itu, ada yang tereduksi.
Lebaran adalah Komunikasi Ritual
Dalam kajian komunikasi, ritual bukan hanya tindakan berulang, melainkan juga proses penciptaan makna bersama. James W. Carey melalui gagasan ”ritual view of communication” menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar transmisi informasi, melainkan juga praktik membangun kebersamaan dan realitas sosial.
Dalam konteks ini, Lebaran adalah ruang di mana masyarakat Indonesia ”merayakan makna bersama” melalui perjumpaan.
Ketika seseorang mudik, ia tidak hanya berpindah tempat, tetapi juga memasuki ruang simbolis di mana relasi diperbarui dan identitas diteguhkan kembali. Ia pulang bukan hanya ke rumah, tetapi ke jaringan makna yang membentuk dirinya
Jabat tangan saat silaturahmi bukan sekadar gestur. Ia adalah pesan. Permintaan maaf yang diucapkan langsung membawa bobot emosional yang tidak tergantikan. Nada suara, ekspresi wajah, bahkan jeda dalam kalimat –semua menjadi bagian dari makna yang dikirim dan diterima.
Di sinilah pentingnya kehadiran fisik. Erving Goffman menekankan bahwa interaksi tatap muka adalah panggung tempat manusia mengelola kesan, membangun makna, dan mempertahankan ”wajah” sosialnya. Dalam konteks Lebaran, panggung itu bukan sekadar performa, melainkan juga ruang kejujuran emosional.
Lebaran, dengan demikian, adalah puncak dari komunikasi yang utuh. Ia menggabungkan pesan verbal dan nonverbal, emosi dan simbol, individu dan komunitas. Namun, komunikasi yang utuh itu kini mulai tergerus.
Digitalisasi dan Erosi Kehadiran
Perkembangan teknologi komunikasi membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi. Media sosial dan aplikasi pesan instan telah menciptakan apa yang disebut sebagai komunikasi yang dimediasi.
Sherry Turkle dalam tulisannya banyak mengingatkan bahwa manusia kini ”alone together” –bersama secara fisik, tetapi sendiri secara psikologis karena tenggelam dalam perangkat digital. Fenomena itu sangat terasa dalam momen Lebaran.
Reuni keluarga, reuni tetangga, dan reuni sahabat yang seharusnya menjadi ruang komunikasi interpersonal justru sering berubah menjadi ruang komunikasi yang terfragmentasi.
Orang-orang hadir secara fisik, tetapi terpecah secara perhatian. Mereka berada dalam satu ruang, tetapi terlibat dalam banyak percakapan digital sekaligus.
Kita acap kali menyaksikan saat Lebaran, banyak orang berkumpul. Namun, kepala saling menunduk. Mata terpaku pada layar. Jemari tangan juga abergerak tanpa henti. Kondisi itu disebut sebagai ”absent presence”; hadir secara fisik, tetapi tidak secara psikologis. Itu adalah bentuk krisis kehadiran yang nyata.
Dampaknya tidak sederhana. Ketika perhatian terbagi, kualitas komunikasi menurun. Pesan tidak diterima secara utuh. Respons menjadi dangkal. Empati melemah.
Saat ini, ketika teknologi maju terjadi kelimpahan informasi. Tetapi, seketika itu pula justru menciptakan kelangkaan perhatian.
Dalam konteks Lebaran, kelangkaan perhatian itu berdampak langsung pada relasi: kita tidak lagi memberikan ruang penuh bagi orang di hadapan kita.
Lebih jauh lagi, kita mulai kehilangan kemampuan untuk mendengar secara aktif. Padahal, mendengar merupakan inti dari komunikasi interpersonal yang efektif. Mendengar tidak lagi menjadi proses memahami, tetapi sekadar aktivitas sambil lalu, bahkan tergantikan oleh distraksi digital.
Fenomena semacam itu telah menggerus penghormatan sosial. Dalam budaya kita, memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara adalah bentuk penghormatan. Ketika seseorang lebih fokus pada gawainya daripada pada orang di depannya, yang terjadi bukan sekadar gangguan komunikasi, melainkan juga penurunan kualitas relasi.
Lebaran kemudian bergeser dari komunikasi yang partisipatif menjadi komunikasi yang performatif. Kebersamaan lebih banyak ditampilkan daripada dialami. Foto keluarga diunggah, berbagai adegan video dipamerkan, tetapi percakapan di dalamnya minim. Ritualnya masih berlangsung, tetapi maknanya menipis dan menghilang.
Komunikasi Humanistis
Dalam situasi itu, sesungguhnyalah silaturahmi tatap muka menjadi makin penting. Ia bukan hanya tradisi, melainkan juga bentuk pemulihan komunikasi yang utuh.
Hubungan antarmanusia yang otentik, di mana seseorang benar-benar hadir dan mengakui keberadaan yang lain secara penuh sangat diperlukan. Maka, relasi semacam itu hanya mungkin terjadi dalam kehadiran yang tidak tereduksi.
Tatap muka memungkinkan terjadinya komunikasi yang autentik. Dalam interaksi langsung, manusia tidak hanya bertukar informasi, tetapi juga membangun pemahaman bersama. Ada ruang untuk klarifikasi, untuk empati, untuk koneksi emosional yang lebih dalam.
Dalam perspektif komunikasi, itu adalah bentuk komunikasi yang paling efektif dan paling manusiawi. Tidak ada algoritma. Tidak ada filter. Tidak ada distraksi berlebihan.
Lebaran seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali praktik itu. Mudik membuka ruang perjumpaan. Anjangsana memperluas jaringan relasi. Tetirah memberikan kedalaman refleksi.
Namun, semua itu membutuhkan kesadaran untuk benar-benar hadir. Hadir secara fisik, hadir secara mental, dan hadir secara emosional.
Mengurangi penggunaan gawai dalam momen silaturahmi tidak berarti menolak teknologi, tetapi mengembalikan prioritas komunikasi pada bentuk yang paling esensial. Sebab, pada akhirnya, komunikasi bukan hanya soal tersambung, melainkan juga soal terhubung.
Idulfitri mengajari kita untuk kembali. Tetapi, kembali ke mana? Jika kita kembali pada fitrah, kita kembali pada kemanusiaan. Dan, kemanusiaan itu hanya bisa hidup dalam relasi yang nyata –dalam perjumpaan, dalam percakapan, dalam kehadiran yang utuh.
Krisis kehadiran yang kita alami hari ini adalah tantangan serius. Ia tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga cara kita menjadi manusia.
Maka, mungkin, di tengah riuhnya teknologi, pesan Idulfitri yang paling mendasar justru sederhana. Kita hadir sepenuhnya. Dengarkan dengan sungguh. Hormati dengan perhatian.
Sebab, tanpa kehadiran, komunikasi kehilangan makna. Dan, tanpa penghormatan pada sesama, humanisme kehilangan pijakannya. Pada akhirnya, tanpa keduanya, Lebaran tinggal sebuah peristiwa seremoni belaka.
Selamat berlebaran! Selamat berkomunikasi yang otentik!!!
Dr. Suko Widodo, Drs., M.Si.
Dosen Prodi S3 Penngembangan Sumber Daya Manusia, Industri Kreatif, Sekolah Pascasarjana UNAIR






