Gresik (beritajatim.com) – Kawasan Ekonomi Khusus Gresik kembali mencuri perhatian nasional setelah mencatat lonjakan investasi fantastis mencapai Rp106,3 triliun sepanjang 2021–2025.
Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan bukti kuat dominasi KEK Gresik yang menyumbang hampir 30 persen dari total investasi seluruh KEK di Indonesia yang mencapai Rp336 triliun.
Capaian ini sekaligus mempertegas posisi KEK Gresik sebagai tulang punggung hilirisasi industri nasional serta penguat rantai pasok dalam negeri di tengah ketatnya persaingan global.
Direktur External Relation dan Special Economic Zone KEK Gresik, Roro Ayu Yayuk Dwi Hastuti, mengungkapkan bahwa lonjakan investasi ini merupakan hasil dari konsistensi pengembangan kawasan sejak ditetapkan sebagai KEK.
“Sebelum berstatus KEK, kawasan Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE) bahkan telah lebih dulu mengantongi investasi Rp5,2 triliun. Dengan demikian, total akumulasi investasi kawasan ini kini menembus Rp111,5 triliun—sebuah pencapaian yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek industri Gresik,” ujarnya, Rabu (18/3/2026).
Tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, KEK Gresik juga aktif menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang menyasar berbagai sektor strategis, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Program CSR kami dirancang agar manfaatnya langsung dirasakan masyarakat sekitar,” imbuhnya.
Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, memastikan kondisi ekonomi Indonesia tetap solid. Hal ini tercermin dari inflasi yang terkendali serta Purchasing Managers’ Index (PMI) yang stabil di atas level 53.
Kinerja positif juga ditunjukkan seluruh KEK di Indonesia. Sepanjang 2025, realisasi investasi di 25 KEK mencapai Rp82,6 triliun atau 98 persen dari target, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 88.541 orang—melampaui ekspektasi pemerintah.
Berdasarkan kajian Prospera dan LPEM Universitas Indonesia, wilayah KEK mampu menarik investasi hingga 77 persen lebih tinggi dibandingkan daerah non-KEK, serta menyerap tenaga kerja 52 persen lebih besar.
Ke depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen pada 2029, dengan KEK—termasuk Gresik—diproyeksikan menjadi salah satu motor penggerak utamanya. [dny/but]






