Pasuruan (beritajatim.com) – Krisis distribusi pangan bergizi meluas di wilayah Pasuruan Raya setelah Badan Gizi Nasional resmi membekukan operasional puluhan dapur produksi. Langkah ini diambil sebagai sanksi tegas atas pengabaian standar higienitas dan sanitasi yang ditemukan pada fasilitas Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di lapangan.
Penghentian aktivitas ini memutus rantai pasokan makanan bagi ribuan warga yang selama ini bergantung pada bantuan gizi harian pemerintah. Kelalaian mitra dalam mengurus Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) menjadi penyebab utama di balik penyegelan massal yang berdampak pada puluhan titik distribusi.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bapperida Kabupaten Pasuruan, Usmawati, menegaskan bahwa sarana prasarana yang tidak memadai menjadi alasan penutupan sementara. “Penghentian operasional terjadi karena mitra penyelenggara belum melengkapi sarana prasarana sesuai ketentuan,” ungkapnya pada Rabu (18/03).
Sebanyak 36 titik yang resmi dihentikan operasinya meliputi wilayah strategis, di antaranya: SPPG Gempol 2, SPPG Bangil Kalianyar, SPPG Bangil Raci, SPPG Sengonagung Purwosari, SPPG Kejapanan 2, SPPG Tlogosari Tutur, SPPG Lebak Sari Wonorejo, dan SPPG Gejugjati Lekok. Penutupan ini merata dari wilayah pesisir hingga pegunungan di Kabupaten Pasuruan.
Daftar tersebut berlanjut pada unit layanan di wilayah tengah seperti SPPG Kalirejo Bangil, SPPG Gajahrejo 2 Purwodadi, SPPG Curahrejo Sukorejo, SPPG Pecalukan Prigen, SPPG Ambal Ambil Kejayan, SPPG Cowek Purwodadi, SPPG Kedungbanteng Rembang, serta SPPG Asem Kandang 2 Kraton. Fasilitas IPAL yang tidak tersedia di lokasi-lokasi tersebut menjadi sorotan tajam tim pengawas.
Titik lainnya yang turut disegel adalah SPPG Sentul Purwodadi, SPPG Kalirejo 2 Bangil, SPPG Kutorejo Pandaan, SPPG Kenduruan Sukorejo, SPPG Sidogiri Kraton, SPPG Gayam Gondangwetan, SPPG Ngembal Tutur, SPPG Lumbangrejo 2 Prigen, dan SPPG Wonokoyo Beji. Ketidaksiapan infrastruktur ini dinilai sangat berisiko terhadap kualitas makanan yang dikonsumsi masyarakat.
Dapur produksi di SPPG Kebonwaris Pandaan, SPPG Masangan Bangil, SPPG Sukorejo, SPPG Sukolelo Prigen, SPPG Oro Oro Ombo, SPPG Kertosari Purwosari, SPPG Dermo Bangil, SPPG Gempeng Bangil, dan SPPG Lumbangrejo Prigen juga tak luput dari pembekuan. Termasuk di wilayah kota, yakni SPPG Tapa’an di Bugul Kidul Kota Pasuruan yang kini ikut berhenti beroperasi.
Usmawati menambahkan bahwa ketiadaan dapur pengganti membuat ribuan warga kini kehilangan asupan gizi harian tanpa kepastian waktu. “Tidak ada skema suplai pengganti dari dapur SPPG lain, jadi sementara penerima manfaat di wilayah tersebut belum mendapatkan makanan bergizi,” pungkasnya saat merinci dampak buruk kebijakan ini. (ada/kun)






