Surabaya (beritajatim.com) – Perang antara Israel dan Iran menekan permintaan perjalanan internasional dan memaksa operator tur mengubah rute serta harga tiket. Dampak ekonomi dan operasional tercatat nyata di berbagai pasar.
Dosen Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (Ubaya) Prita Ayu Kusumawardhany menekankan langkah praktis untuk menjaga arus wisatawan tanpa melepas kewaspadaan.
Menurutnya, pemerintah sebaiknya menguatkan kampanye digital demi menegaskan citra aman Indonesia. “Koordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif harus segera dijalankan,” ujarnya, dikutip Selasa (17/3/2026).
Pelaku usaha disarankan memusatkan promosi pada pasar jarak dekat dan menjalin kerja sama maskapai. Prita menyarankan strategi pasar ganda untuk menjaga arus kas saat pasar internasional tertekan.
Untuk keamanan operasional, Prita mendorong penerapan pemantauan berbasis teknologi di titik wisata utama seperti Bali. Pemantauan itu soal kepercayaan pengunjung, bukan sekedar pengawasan.
Ia merinci lima risiko, antara lain ancaman keamanan, keterbatasan transportasi, gangguan psikologis wisatawan, reputasi destinasi Timur Tengah, dan kenaikan biaya perjalanan. Risiko itu berpotensi mengubah pola permintaan wisatawan global.
Prita juga mengingatkan pentingnya mengikuti pembaruan maskapai dan asosiasi penerbangan internasional. “Terus jaga aktualitas informasi dari media dan pantau pembaruan maskapai serta IATA,” kata Prita.
Sebagai langkah komersial, ia menyarankan diversifikasi paket domestik dan regional, travel advisory berkala, dan promo fleksibel seperti garansi atau refund. Langkah itu dimaksudkan menyeimbangkan penurunan wisatawan internasional dan stabilkan pendapatan. [ipl/ian]






