Mojokerto (beritajatim.com) – Suasana sore di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto terasa berbeda. Di Masjid At-Taubah, sejumlah warga binaan tampak duduk bersila, kitab di tangan, menyimak penjelasan seorang pengajar. Sosok itu adalah Sidik Aji Pribadi (30).
Pegawai Lapas Kelas IIB Mojokerto yang memilih menebar ilmu agama di tengah rutinitas penjagaan. Bagi Sidik, mengajar kitab bukan sekadar kegiatan tambahan. Latar belakangnya sebagai santri sejak kecil membuatnya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk menularkan ilmu kepada mereka yang tengah menjalani masa pembinaan.
“Background saya dari pesantren. Saya ingin menularkan dan menyebarkan ilmu kepada teman-teman warga binaan agar apa yang saya sampaikan bisa bermanfaat dan alhamdulillah ada pengajian kitab di sini. Ini sebagai nilai tambah, satu untuk Lapas dan satu lagi untuk diri kita,” ungkapnya, Sabtu (14/3/2026).
Pria asal Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini memulai pendidikan dasar di MI Bustanul Ulum Mojokerto. Perjalanan menuntut ilmu kemudian membawanya nyantri di Jombang saat menempuh SMP hingga SMA di SMA Darul Ulum. Ia juga sempat menimba ilmu di Malang.
Kuliah di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sambil nyantri di Ma’had Al Ali serta Pondok Pesantren Sabilur Rosyad. Bekal pendidikan pesantren itulah yang kini ia manfaatkan untuk membina warga binaan. Setiap sore, Sidik bersama tim pengajar mengisi kelas Madrasah Diniyah dengan materi kitab klasik.
Salah satu kitab yang diajarkan adalah Fathul Qorib, kitab fikih yang populer di kalangan santri. Selain itu, ada pula pembelajaran hadis Arba’in Nawawi serta tafsir Al Idris. Menurut bapak dua anak ini, program pengajian kitab di Lapas Kelas IIB Mojokerto tergolong cukup lengkap.
Pembinaan dilakukan secara bertahap, mulai dari santri yang sudah mampu membaca Al-Qur’an hingga yang siap mendalami kitab, tafsir, hadis, serta ilmu nahwu dan sharaf. Setiap tahun, Lapas Kelas IIB Mojokerto juga menggelar wisuda untuk para warga binaan yang menimba ilmu keagamaan.
“Setiap tahun kami juga mengadakan wisuda santri, sama seperti di pesantren luar. Mereka yang dinilai sudah memenuhi standar keilmuan akan diwisuda. Jadi kalau di pesantren itu kan belajarnya kompleks, ada kitab kuning, ada pembelajaran kayak sekolah pada umumnya. Saya ingin getuk tular kepada warga binaan,” jelasnya.
Sidik percaya, ilmu agama dapat menjadi bekal penting bagi warga binaan saat kembali ke masyarakat. Ia ingin para santri lapas pulang dengan membawa ‘oleh-oleh’ berupa pengetahuan dan nilai kebaikan. Niat baiknya pun disambut Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Mojokerto.
“Harapannya ketika mereka keluar, ada pembeda dalam diri mereka. Mereka punya bekal ilmu agama yang bisa diamalkan dan disebarkan. Alhamdulillah, kemarin Bapak Kalapas mengizinkan saya ikut seleksi ijazah melalui prestasi dari pembinaan program pengajian di Lapas,” katanya.
Dari situ ia menjadi salah satu dari delapan pegawai Lapas Kelas IIB Mojokerto yang naik pangkat, dari 2b menjadi 3a. Sidik sendiri telah mengabdi sebagai pegawai Lapas sejak 2017. Ia sempat bertugas di Lapas Malang selama tiga tahun sebelum akhirnya pindah ke Lapas Kelas IIB Mojokerto pada 2020 lalu.
Selain menjalankan tugas sebagai petugas jaga, ia juga terus berupaya menghidupkan semangat belajar agama di balik jeruji. Di tengah keterbatasan ruang dan stigma yang melekat pada warga binaan, Sidik memilih menyalakan harapan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi, selama ada ilmu yang ditanamkan dan kesempatan untuk memperbaiki diri. [tin/ian]






